Batik Cirebon

Sunday, March 22, 2015

Batik Cirebon - Mengungkap Pengaruh Syariat Islam terhadap Seni Corak Batik

Batik Cirebon - Syariat Islam membawa pengaruh tersendiri pada pertumbuhan batik di Tanah Air. Salah satunya bisa dilihat dalam motif Pelo Ati yang menjadi ciri khas corak batik Rifa'iyah.

Secara umum, ragam hias pelo ati menggambarkan dua motif ayam dengan kepala terpenggal. Pada bagian tubuhnya menunjukkan ragam hias menyerupai bentuk hati, dan pada motif ayam lainnya terdapat pelo.

"Batik pesisir ini dipengaruhi budaya warga Rifa’iyah yang berpegang teguh pada ajaran Syaikh Ahmad Rifa’i ber-madzhab Imam Syafi’i," ujar dosen sekaligus peneliti Kriya Tekstil Mode Telkom University Bulan Prizilla, Jumat (20/3/2015).

Bulan mengatakan, karena mengikuti syariat Islam, batik Rifa’iyah menghindari unsur motif binatang atau manusia. Kalaupun ada unsur tersebut, maka akan digambarkan tidak utuh melainkan sebagian tubuh tertentu saja. Misalnya hanya menggambarkan sebagian tubuhnya saja atau menghiasnya dengan corak tumbuhan.

Seperti Pelo Ati yang digambarkan dengan motif-motif bunga dan dedaunan. Secara filosofis, ragam hias Pelo Ati memiliki pemaknaan dakwah terhadap ajaran Syaikh Ahmad Rifa’I mengenai ilmu Tasawuf.

“Motif ayam pada batik Pelo Ati mengibaratkan mahluk hidup. Dan manusia adalah makhluk hidup yang memiliki hati. Pada kitab Tarajumah, terdapat delapan sifat manusia yakni zuhud, qana’at, shabar, tawakal, mujahadah, ridla, syukur dan ikhlas,” tutur Bulan.

Pada ragam hias batik Pelo Ati juga terdapat gambar ampela burung yang digambarkan berada di luar tubuh burung. Kata Bulan, ampela adalah tempatnya kotoran dan harus dibuang. Bulan mengungkapkan, gambaran ampela mengibaratkan sifat-sifat  buruk manusia  yang harus dibuang.

Batik Cirebon - Dalam kitab Tarajumah disebutkan sifat buruk manusia yakni hubbu al-dunya, thama’, itba’ al-hawa, ‘ujub, riya, takabur, hasud dan sum’ah. “Batik Pelo Ati Rifa’iyah menggunakan pewarnaan tiga negeri, dimana warna-warna ini melambangkan prinsip hidup  yang dipegang masyarakat Rifa’iyah yakni Ushuliddin, Fiqih dan Tasawuf,” kata Bulan.

Hukum Islam ajaran Syaikh Ahmad Rifa’I, kata Bulan, melarang penggambaran mahluk hidup selain tumbuh-tumbuhan pada pakaian. Kecuali jika binatang itu dalam kondisi mati. Misalnya ditandai dengan kondisi kepala terpotong atau memotong bagian tubuh lainnya yang menyimbolkan binatang tersebut telah mati.

Hal ini diperuntukan agar karya seni batik tidak menimbulkan perbuatan syirik bagi pembuatnya maupun penggunanya. "Penggambaran ini tampak pada motif Pelo Ati batik Rifa’iyah yang dilandaskan pada ajaran Syaikh Ahmad Rifa'i, pendisi Pesantren Kalisalak, Limpung Batang," ucap dia.

Bulan menambahkan, Rifa’iyah diambil dari nama tarekat yang didirikan oleh KH Ahmad Rifa’I di mana komunitasnya muncul di Kalisalak, Batang Jawa Tengah sekitar tahun 1850.

Syaikh Ahmad Rifa’I tercantum sebagai salah satu pahlawan nasional sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono hingga sekarang. Menurut ajaran Syaikh Ahmad Rifa’I, Islam memiliki aturan yang harus dipatuhi dalam penggambaran, terutama penggambaran makhluk hidupnya.

“Sebagian besar Batik Rifa’iyah mempunyai nilai seni sangat tinggi. Motif dan coraknya sangat kental dengan nilai-nilai Islam dan nilai-nilai budaya kehidupan masyarakatnya,” tutup Bulan.( Batik Cirebon )

Saturday, March 21, 2015

Batik Cirebon - Wajah Cantik Batik, Dulu dan Kini

Batik Cirebon - Satu kata yang identik dengan batik adalah Indonesia. Tak dimungkiri batik memang jadi ikon tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Batik sebenarnya berasal dari kata amba (menggambar atau menulis) dan titik.

Batik adalah sebuah proses menggambar dan menggabungkan titik dengan garis di atas selembar kain. Proses ini dibuat dengan menggunakan alat bernama canting dan berisi malam (lilin). Jadi batik adalah proses, dan bukan sebuah motif.

Meski memiliki banyak campuran kebudayaan, namun perkembangan batik banyak dipengaruhi oleh masyarakat Jawa. Kala itu semua batik dibuat handmade, jenis batik ini dikenal dengan nama batik tulis. Proses pengerjaannya yang lama membuat batik cukup sulit dikembangkan massal. Tak heran jika dulunya batik hanya dimiliki oleh beberapa kalangan masyarakat menengah ke atas.

Batik pun memiliki banyak motif, misalnya kawung, parang, sidomukti, sidodrajat, ceplok, tumaruntum, dan lainnya. Semua motif ini memiliki makna dan artinya masing-masing. Karena mengandung makna mendalam, semua kain ini harus dipergunakan sesuai artinya. Batik Keraton misalnya, hanya boleh digunakan untuk anggota keraton. Sedangkan batik truntum digunakan untuk orang tua pengantin Jawa. Batik motif ini tak boleh digunakan oleh calon mempelai karena diyakini bisa memberi arti berbeda untuk mempelai.

Batik Cirebon - Karena kain ini merupakan kain tradisional, banyak anak muda modern yang tak ingin memakainya. Kain warisan ini dianggap kuno dan tak bergaya. Batik pun nyaris punah. Namun, gerakan cinta batik kemudian menggelora tatkala batik nyaris diaku-aku oleh negara tetangga. Rakyat Indonesia "marah". Rakyat Indonesia membuat gerakan Hari Batik. Pemerintah pun langsung mendaftarkan batik ke UNESCO sebagai warisan budaya. Bulan Oktober 2009, batik pun diakui sebagai Masterpiece of Oral and Intangible of Humanity dari Indonesia.

Batik kini

Proses pengakuan UNESCO terhadap batik membawa satu perubahan positif. Hal ini menjadikan masyarakat Indonesia jadi lebih sadar terhadap warisan budayanya sendiri. Desainer lokal pun berlomba-lomba untuk menciptakan berbagai busana anak muda yang trendi dari batik.

Batik menuai masa kejayaannya beberapa waktu lalu. Kejayaan batik ini tak ayal membuat kain tradisional lainnya juga jadi sorotan. Namun, fokus utamanya tetap terletak pada batik.

Gaung batik masih terasa sampai saat ini. Bahkan dalam berbagai kesempatan desainer Indonesia berkreasi dengan batik dan membawanya ke panggung dunia. Mel Ahyar, Iwet Ramadhan dan beberapa desainer Indonesia lainnya membuat batik jadi populer di Indonesia dan juga di dunia.

Batik Cirebon - Bukan cuma mengolah batik menjadi busana yang bergaya muda, namun desainer ini juga mengembangkan teknik tradisional ini. Batik bukan lagi tentang kainnya tapi juga tentang pengembangan motif baru. Mel Ahyar misalnya, untuk mengomersilkan batik, ia pun mengembangkan batik sebagai sebuah motif. Artinya ia berkarya dengan menghadirkan batik sebagai motif karyanya.

Karya ini akan ditampilkan dalam ajang fesyen mal premium di Jakarta beberapa waktu lalu. Mel berkreasi dengan batik Belanda dari abad ke-18. "Batik Belanda adalah adalah batik yang dikembangkan oleh orang Indonesia namun kala itu masyarakat Belanda ingin punya juga. Makanya mereka minta motif sendiri untuk di batik," kata Mel Ahyar, di Senayan City, Rabu (18/3).

Ditambahkan Mel, batik Belanda ini memiliki motif yang lucu, misalnya Hansel Gretel, Cinderella, sampai motif tank.

Berbeda dengan Mel, desainer Iwet Ramadhan. Iwet yang memfokuskan bisnisnya pada kreasi batik ini mengembangkan batik lewat kerjasama dengan pengrajin setempat. Namun, ia juga tak menutup kemungkinan untuk mengembangkan batik dengan menambahkan berbagai motif baru yang modern.

"Saya juga memodifikasi batik dengan inspirasi motif tradisional menjadi lebih modern," ucap Iwet.

Kini wajah batik bukan lagi wajah tradisional. Kini batik menjelma sebagai sebuah fesyen yang modern. Meski kini batik telah berkembang, namun batik tetap memiliki akar budaya dan cerita tradisi. Para desainer lokal mengaku langkah modifikasi batik ini adalah langkah untuk mengembangkan budaya tanpa merusak akarnya.

"Motif batik tradisional tidak bisa diplintir, maka langkah utama pengembangannya adalah membuat modifikasi atau menciptakan motif yang baru," ucap Mel.( Batik Cirebon )

Friday, March 20, 2015

Batik Cirebon - Batik Motif Ceplok, Parang, dan Semen Dilombakan di Yogya

Batik Cirebon - Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Yogyakarta menggelar lomba desain motif batik. Lomba ini didasarkan pada tiga motif batik khas Yogyakarta, yaitu ceplok, parang, dan semen. "Lomba ini terbuka untuk umum, tidak dibatasi domisili. Peserta bisa berasal dari mana saja," kata Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian Kota Yogyakarta Tri Karyadi Riyanto di Yogyakarta, Rabu, 18 Maret 2015.

Peserta lomba sudah bisa mendaftar mulai hari ini dengan syarat menyerahkan karyanya. Pendaftaran paling lambat dikirim pada 7 Mei stempel pos. Karya diserahkan atau dikirimkan ke panitia lomba desain motif batik yang berada di Griya UMKM Kota Yogyakarta. Tri berharap jumlah karya yang masuk ke panitia lomba bisa mencapai setidaknya seratus desain motif batik.

Batik Cirebon - Peserta diminta menyerahkan karya dalam bentuk sketsa yang digambar di kertas berukuran A3. Panitia kemudian akan menyeleksi karya yang masuk dan memilih 20 desain terbaik. 

Desain yang terpilih tersebut kemudian akan dituangkan dalam batik tulis di kain sepanjang 2 meter. "Kami akan memilih enam karya terbaik untuk ditetapkan sebagai pemenang," ucapnya.

Sebanyak 14 peserta yang karyanya tidak terpilih akan memperoleh kompensasi uang sebesar Rp 300.000. Sedangkan enam peserta lain akan memperebutkan hadiah berupa uang tunai Rp 2-10 juta. Seluruh desain yang masuk, ujar dia, akan menjadi milik Dekranasda Kota Yogyakarta.

"Desain dari pemenang akan digunakan sebagai seragam bagi pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta. Namun karya yang terpilih belum tentu karya dari pemenang pertama," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengembangan Mutu Kerajinan Dekranasda Kota Yogyakarta Lia Mustafa mengatakan lomba desain motif batik yang dilakukan Pemerintah Kota Yogyakarta tersebut tidak meniru lomba yang sama yang telah dilakukan di kabupaten lain di DIY. "Kami mendasarkan lomba ini pada motif batik tradisional yang sudah ada, bukan mengangkat motif yang benar-benar baru seperti di daerah lain," ujarnya.

Ia berharap peserta bisa mengkreasikan motif batik yang inovatif berdasarkan motif ceplok, parang, dan semen, termasuk menjaga filosofi yang dimiliki tiga motif tradisional itu. Desain batik dari peserta juga akan dipamerkan di Griya UMKM Kota Yogyakarta.( Batik Cirebon )

Thursday, March 19, 2015

Batik Cirebon - Bahan Baku Masih Impor, Industri Batik Terpukul Pelemahan Rupiah

Batik Cirebon - Pelemahan nilai ganti rupiah pada dolar AS ikut menanggung industri batik lantaran beberapa bahan baku mesti diimpor. Bila pelemahan nilai ganti rupiah tidak selekasnya terselesaikan, industri batik terancam keberlangsungannya.

"Melemahnya nilai ganti rupiah pada dolar AS menyebabkan harga beberapa bahan baku serta obat batik naik relatif tinggi. Hal semacam itu tentu punya pengaruh pada keberlangsungan usaha kerajinan batik, " kata Ketua Kamar Dagang Indonesia Kota Pekalongan, Riicsa Mangkula di Pekalongan, Minggu (15/3/2015).

Batik Cirebon - Riicsa mengungkap, sampai kini bahan baku batik berbentuk obat serta kain mori masih tetap mesti dihadirkan dari luar negeri hingga kenaikan dolar AS punya pengaruh negatif pada usaha kerajinan batik.

"Oleh karenanya, beberapa entrepreneur batik untuk sesaat ini pilih kurangi jumlah produksi bahkan juga berhenti produksi sembari menanti harga bahan baku kembali turun, " tuturnya.

Batik Cirebon - Ia menyampaikan sekarang ini jumlah industri batik yang masih tetap bertahan terus berproduksi cuma seputar 25 % lantaran perajin tak dapat hadapi kenaikan harga bahan baku serta kesusahan modal.

"Oleh karenanya, kami mengharapkan pemerintah bisa memberi jalan keluar bagaimana caranya beberapa pelaku usaha kerajinan batik bisa menyelenggarakan usahanya lagi tanpa ada dibayang-bayangi dengan kenaikan harga bahan baku serta obat batik, " tuturnya.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, serta UMKM Kota Pekalongan, Supriyono menyampaikan bahwa nyaris 98 % bahan baku batik, seperti mori serta lilin dihadirkan dari luar negeri.

"Melemahnya nilai ganti rupiah pada dolar AS tak dan merta untungkan beberapa ekportir namun juga punya pengaruh pada pelaku usaha batik yang perlu yang akan datang bahan baku dari luar negeri, " tuturnya. ( Batik Cirebon )

Wednesday, March 18, 2015

Batik Cirebon - Dinda Kanya Dewi Koleksi Batik Warisan Keluarga

Batik Cirebon - Siapa yang tidak tahu dengan Artis Dinda Kanya Dewi, rupanya Artis yang satu ini tengah menyukai barang-barang produksi dalam negeri, salah satunya kain batik.

Tidak sembarang batik, tapi koleksi kain yang dimilikinya itu warisan turun temurun dari keluarga.
"Saya suka dengan kain-kain batik buatan lokal. Tapi koleksi batik yang paling banyak sih dari almarhumah mama aku," kata Dinda, ketika ditemui usai jumpa pers FILARTC, di Galeri Indonesia Kaya West Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2015).

Batik Cirebon - Menurutnya, karena dia anak perempuan paling kecil dikeluarga, sehingga dia mendapatkan banyak kain batik koleksi dari ibunya yang telah meninggal pada tahun 2014 lalu.

"Saya seneng banget soalnya sama kain batik. Karena kan batik kuno itu barang langka ya, jadi saya juga ingin melestarikan koleksi dari mama aku dan juga dari nenek aku itu. Saat ini aja aku pakai batik cap, dan desainnya juga unik," katanya.

Bahkan, Dinda mengaku berhati-hati untuk menjaga koleksi batik turunan dari keluarganya itu. Makanya, dia jarang meminjamkan kain batik koleksi turunan keluarganya kepada orang lain.

"Karena ada nilai histori keluarga saya juga, saya pakai biasanya suka pakai koleksi batik itu. Makanya saya ngga pinjamkan baju saya itu ke orang lain. Paling kalau emang mau kasih pinjem, baju yang saya beli aja," ungkap dara berusia 28 tahun itu.( Batik Cirebon )

Tuesday, March 17, 2015

Batik Cirebon - Produsen Batik Pekalongan Resah

Batik Cirebon - Masih terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) membuat resah produsen batik di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Biaya produksi batik menjadi lebih tinggi karena bahan baku sebagian besar impor.

"Sudah mulai terasa pada biaya produksi yang bertambah mahal," ujar Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Daerah Kabupaten Pekalongan, Failasuf, Senin (16/3/2015).

Menurutnya, kenaikan biaya produksi batik tersebut diakibatkan bahan baku pembuatan batik yang hampir seluruhnya adalah barang impor. Kenaikan harga bahan baku itu sudah terjadi sekitar dua bulan terakhir.

"Biaya produksi otomatis naik. Sebab bahan baku pembuatan batik tersebut impor, seperti sutera, katun dan lilin. Apalagi melemahnya rupiah terjadi jangka panjang, akan sangat terasa berat sekali," ujarnya.

Batik Cirebon - Pria yang juga pengusaha batik tersebut mengungkapkan, naiknya biaya produksi otomatis naik pula harga jual batik tersebut. Sehingga dia khawatir, hal itu akan berpengaruh pada omset yang menurun.

"Kalau konsumen tidak bisa menerima kenaikan harga batik itu, otomatis omset kami turun. Untuk mensiasatinya, kami meningkatkan nilai seninya. Sehingga bisa mendongkrak harga batik yang sudah jadi," ungkapnya.

Melemahnya rupiah, lanjut dia, diperparah dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dan cenderung banyak terjadi hujan. Sehingga produksi batik menurun.

"Hujan terus seperti ini juga mengganggu. Sebab, para perajin batik masih mengandalkan sinar matahari. Jadi penurunan produksi batik akibat hujan mencapai sekitar 30%. Saat puncaknya lalu malah menurun sampai 50%," terangnya.

Saat cuaca cerah, pihaknya memperbanyak produksi batik. Sementara saat terjadi hujan, dia mensiasatinya dengan menggarap produksi lain seperti design.

"Kalau produk batik tulis kan tidak dibuat massal, butuh inspirasi dan ide. Sehingga butuh waktu yang lama juga untuk produksi. Jadi saat cuaca jelek, kami siasati dengan produksi lainnya, misal design. Saat panas, kami perbanyak penjemuran," jelasnya.

Terpisah, Kabid Perdagangan Disperindagkop dan UMKM Kabupaten Pekalongan, Agus Dwi Nugroho, membenarkan hal itu. Menurutnya, saat ini terjadi tren kenaikan bahan baku batik setelah merosotnya nilai rupiah terhadap USD.

"Tingginya biaya produksi ini, membuat produsen batik semakin tertekan. Biaya produksi otomatis bertambah mahal. Namun tidak diikuti harga jual yang naik pula. Sebab daya beli konsumen di pasar menurun," terangnya.

Hal itu, lanjut dia, mengakibatkan omzet produsen batik mengalami penurunan. Pihaknya berharap, para produsen batik di Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya tetap dapat bertahan dengan kondisi ini. "Saya harap para produsen batik tetap survive pada keadaan ini," terangnya.( Batik Cirebon )

Monday, March 16, 2015

Batik Cirebon - Kreasi Batik Anak Muda Masa Kini

batik cirebon
Tanpa Dijait pun Kain Batik Ini Dapat Dijadikan Gaun Yaitu Drapping
Batik Cirebon - Perkembangan zaman membuat batik semakin modern. Di fashion show bertajuk Bellazo by Flo yang digelar di La Moda Factory Outlet, Manahan, Solo, Selasa (10/3/2015), ditampilkan kreasi busana batik yang bisa dikenakan kalangan anak muda berkarakter energik dan berani.

Fashion show bertajuk Bellazo by Flo tersebut digelar desainer muda Florentina Indrawan, 26. Florentina menampilkan 18 rancangan yang baru saja diikutkan pada ajang pameran Indonesia Fashion Week 2015 di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, Florentina, desainer lulusan sekolah mode International Fashion Academy (IFA) Paris, menampilkan rancangan yang simpel namun tetap fashionable.

Mengenakan aneka blouse batik dari bahan sutra dan sedikit katun, para model tampil cantik dan energik, khas anak muda.

Sebagai pembuka fashion show, ditampilkan blouse warna ungu yang soft dengan model simpel, dipadu celana hitam yang modelnya terinspirasi dari celana popok bayi. Selanjutnya, ditampilkan blouse simpel tanpa lengan dengan model lipatan di bagian depan.

Blouse batik warna pink dengan model tumpuk di bagian depan terlihat elegan dipadukan celana hitam.  Selanjutnya ditampilkan blouse batik warna oranye dengan desain bagian belakang lebih panjang dibandingkan bagian depan. Baju atasan itu dipadu celana jins biru muda.

Batik Cirebon - Florentina juga menampilkan empat rancangan busana model mini dress dengan desain yang simpel. Salah satunya, mini dress berkerah warna merah lengan pendek dengan desain bagian belakang lebih panjang dibandingkan bagian depannya. Ada juga mini dress tanpa kerah dengan lengan pendek, mini dress berkerah warna kuning yang didesain tanpa lengan dan mini dress warna hijau tosca yang didesain tanpa kerah dan tanpa lengan, serta bagian bawah dirancang lebih longgar.

Selain busana wanita, Florentina juga menampilkan rancangan busana pria dengan desain lengan pendek dan lengan panjang. Florentina mengungkapkan koleksi yang ia tampilkan lebih ke arah kasual sehingga bisa dipakai untuk kegiatan sehari-hari. Desain yang simpel menjadi pilihan Florentina karena ia menyasar pasar segmen anak muda dan ibu-ibu muda.

“Aku juga pakai warna-warna soft, pastel agar anak-anak muda tertarik pakai batik. Kalau model, aku selalu ikuti tren,” ungkapnya kepada wartawan sebelum fashion show.( Batik Cirebon )