Batik Cirebon

Saturday, March 29, 2014

Trusmi - LiNing siapkan seragam batik indonesia untuk tim Thomas

Batik Indonesia - LiNing siapkan seragam batik indonesia untuk tim Thomas.Perusahaaan peralatan olahraga Li-Ning menyiapkan seragam khusus bagi kontingen Indonesia yang akan turun dalam kejuaraan bergensi beregu dunia Piala Thomas di India pada Mei mendatang yaitu seragam bermotif batik indonesia.

"Kami ucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan PBSI. Kami akan mendukung timnas bulutangkis Indonesia dalam dua tahun kedepan (2014--2016) dengan memakai seragam bermotif batik indonesia," kata Direktur Sunlist Sport Asia Pasific, Mahendar Kapoor, di Jakarta, Rabu.

Di sela penandatangan MoU dengan PBSI di Pelatnas Cipayung Jakarta, ia menjelaskan motif batik indonesia itu terpampang pada bagian samping depan kaos yang akan digunakan dalam pertandingan. Adapun warna dasarnya tetap merah dan putih.

"Tapi, bentuk dukungan yang diberikan Li-Ning kepada atlet Indonesia tidak hanya kaos pertandingan dan jaket. Namun, semua kebutuhan atlet mulai dari sepatu, celana, tas, kaos casual dan latihan hingga topi akan dipenuhi," katanya.

Kapoor menjelaskan kerja sama yang terjalin dengan PBSI adalah sebuah bentuk kepercayaan jika atlet-atlet Indonesia mampu menjadi yang terbaik dalam setiap kejuaraan yang akan diikuti.

Sebelum memberikan dukungan kepada Tim Thomas Indonesia dengan seragam khusus, Li-Ning terlebih dahulu memberikan dukungan kepada atlet muda Indonesia yang akan turun di Asia Junior Championships 2014 di Taiwan, 16--23 Februari.

"Desain untuk Asia Junior Championships berbeda dengan Piala Thomas," katanya menambahkan.

Ada 21 atlet yang diberangkatkan ke kejuaraan yang mempertandingkan nomor perorangan dan beregu campuran dengan format Piala Sudirman itu.

Pada kejuaraan itu, PBSI menargetkan satu emas, terutama dari nomor tunggal dan ganda putra.

Sementara itu Sekjen PBSI Anton Subowo menyambut kerja sama yang dilakukan dengan Li-Ning.

Menurut dia, kerja sama ini terjadi karena perusahaan asal China ini mengetahui secara langsung kualitas atlet-atlet bulutangkis Indonesia.

"Atlet yang turun di Asia Junior Championships semuanya menggunakan Li-Ning dengan warna dominan merah," katanya di sela penandatanganan kerja sama.

Trusmi - Thamrin City Siap Jadi Pusat Batik Indonesia saat Ultah ke-4

Batik Indonesia - Thamrin City Siap Jadi Pusat Batik Indonesia saat Ultah ke-4.Memasuki bulan Februari ini, tidak terasa empat tahun sudah Pusat Batik Indonesia Nusantara (PBN) hadir di pusat perbelanjaan Thamrin City. Sebagai pusat Batik Indonesia terlengkap, PBN menyediakan berbagai macam pakaian batik, kain batik, dan barang-barang bermotif batik dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Lucy Ratna, Public Relation and Promotion Manager Thamrin City, hadirnya PBN merupakan komitmen dari Thamrin City untuk mengangkat batik sebagai warisan leluhur bangsa Indonesia. Terlebih, kegairahan ini diinspirasi oleh pengakuan terhadap Batik Indonesia oleh UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia

"Transformasi penggunaan batik nusantara yang terjadi sejak beberapa tahun lalu, tidak lepas dari kecintaan terhadap batik dan usaha bangsa ini untuk melestarikan produk budaya lokal serta menyesuaikan dengan perkembangan zaman," kata Lucy dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Jumat (14/2).

Thamrin City, lanjut dia, memiliki Pusat Batik Nusantara (PBN) yang menjadi pusat jual beli produk batik nasional. Tak kurang, 950 pengrajin dan pedagang batik berbisnis dan mengembangkan batik nusantara, dengan misi menjadikan batik sebagai tren fashion di dunia.

Dalam merayakan ulang tahunnya keempat, PBN mengusung tema 'Serukan Batik Sebagai Identitas Bangsa'. Tujuannya, kata Lucy, agar orang Indonesia semakin menghargai Batik sebagai warisan budaya Indonesia, dan batik semakin dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat.

"Terkait dengan hal itu, PBN telah siap dalam memberikan kontribusi nyata dengan mensupport berkembangnya tren batik nusantara, sebagai identitas kebangsaan. Kepedulian Thamrin City terhadap UKM dan upaya pelestarian batik sebagai warisan budaya bangsa diwujudkan dengan merangkul pengerajin dan pengusaha batik untuk bergabung di PBN, sehingga dapat meningkatkan perekonomian bagi para UKM dan UMKM dari daerah," tambahnya.

Seperti diketahui, Pusat Batik Nusantara (PBN) Thamrin City diresmikan oleh Menteri Perdagangan RI Mari Elka Pangestu pada bulan Februari 2010. PBN sendiri terdapat di lantai dasar 1, lantai Dasar, lantai Satu (sisi barat) pusat perbelanjaan Thamrin City.

Hingga saat ini, lanjut dia, PBN sudah menghadirkan berbagai pengrajin batik yang berasal dari Pekalongan, Yogyakarta, Bantul, Lasem, Solo Raya, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Purbalinggga, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Sumenep, dan Jepara.

"Semakin lengkap, koleksi batik yang ada di Thamrin City dengan hadirnya Batik Batavia, Papua, Kalimantan Selatan dan Batik Tanah Lake dari Padang," ucap Lucy.

Untuk Batik dari Solo Raya, kata Lucy, PBN merupakan tempat untuk mempromosikan dan menjual secara langsung produk-produk batik dari daerah Solo dan sekitarnya, yaitu dari Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten.

Kehadiran para pengrajin batik di Jakarta sebagai pusat bisnis dan perdagangan tentu saja mempermudah dan mendekatkan interaksi antara pengrajin dan konsumen batik potensial di ibukota.

"Jakarta merupakan pasar yang sangat potensi bagi para pengrajin dan para pengusaha batik asal dari daerah, karena jumlah penduduk dan perputaran uang di Ibukota negar ini sangat besar, selain itu akan semakin mempermudah warga Jakarta untuk mendapatkan batik berkualitas dengan variasi batik yang beragam pula," tambahnya.

Hadirnya PBN, lanjut Lucy, selain menjembatani kepentingan antara pengrajin dan pedagang dengan masyarakat pengguna batik. Selain itu, Thamrin City juga melakukan edukasi dini kepada generasi muda Indonesia supaya lebih menanamkan kecintaan mereka terhadap batik.

Pusat Tenun Nusantara

Selain batik, PBN juga menghadirkan zona Pusat Tenun Nusantara (PTN). Saat ini, ada sekitar 75 pengrajin dan pedagang tenun di Thamrin City, yang memasarkan tenun tradisional kuno hingga tenun corak yang sudah dikembangkan mengikuti perkembangan zaman dan permintaan pasar. Kehadiran gerai tenun ini, melengkapi zona dan kebutuhan untuk pelengkap dari sejumlah toko batik yang ada di PBN.

"Kain Tenun tradisional juga dapat menjadi busana dengan mode terkini, seperti yang bisa di dapat di Zona Pusat Tenun Nusantara - Thamrin City lantai 1 sisi Barat. Melengkapi zona-zona Heritage yang ada di Thamrin City, zona Tenun Nusantara sudah menghadirkan pengrajin dari sejumlah daerah seperti Majalaya, Jepara, dan Pekalongan," tandasnya.

Batik Trusmi - Menenun Hasil Dari Salah Satu Regional Batik Indonesia

Batik Indonesia - Menenun Hasil Dari Salah Satu Regional Batik Indonesia.Kecintaan akan batik yang diturunkan secara turun menurun dari keluarga membuat pria bernama lengkap H.A Failasuf menjadi pengusaha batik yang terbilang sukses. Tidak hanya berhasil dalam bisnis yang digelutinya, Failasuf pun mampu menghidupkan kembali industri batik di sekitar tempat tinggalnya.

Dia mengawali bisnis berjualan Batik Indonesia nya ketika masih duduk dibangku kuliah. "Dulu waktu SMA saya sudah suka berdagang. Waktu kuliah saya belajar jualan batik," ujarnya saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta seperti ditulis Jumat (21/2/2014).

Usia lulus kuliah, Failasuf mengaku langsung fokus untuk berbisnis Batik Indonesia. Dia mulai membuka usahanya yang diberi nama Batik Pesisir pada tahun 1999. Dia mendapatkan keahlian membatik dari sang nenek yang diturunkan kepada ibu kemudian kepada dirinya.

Pada awal bisnis batik, Failasuf hanya mempunyai 4 orang perajin. Namun saat ini, dia telah memberdayagunakan 300 perajin batik dalam satu kampung yang diberi nama Kampung Batik, Pekalongan, Jawa Tengah.

"Mulai 2006, Saya bersama teman-teman membentuk yang namanya Kampung Batik, dari empat pengrajin sekarang ada ratusan. Itu menghidupkan kembali perkampungan di Pekalongan. Sebenarnya dari dulu sudah ada namun belum terorganisir dan sistem pemasarannya masih apa adanya," jelasnya.

Dengan demikian, dia juga berhasil menghidupkan kembali Pasar Grosir Pantura yang menurutnya dulu seperti hidup segan mati tak mau. "Sekarang sudah ganti menjadi Grand Grosir Pantura, ini secara otomatis mengangkat ekonomi masyarakat sekitar. Pertokoaan di sana jadi laku, penjual bahan baku juga laku," kata pria lulusan sarjana ekonomi akutansi ini.

Failasuf mengaku tidak pernah menyiapkan modal awal untuk membangun usahanya. Dia hanya mengandalkan keuntungan yang didapatkannya dari berjualan untuk mengembangkan bisnisnya tersebut.

"Selesai kuliah, niat saya memang sudah bulat mau jadi wirausahawan, karena gaji pengusaha itu lebih sbesar dari pada pekerja. Saya tidak punya modal khusus, keuntungan dari menjual barang-barang (batik) orang lain saya manfaatkan untuk mengembangkan usaha," tuturnya.

Menurut Failasuf, banyak perajin batik Indonesia yang mempunyai karya batik yang baik, namun kebanyakan belum mempunyai sistem manajemen yang modern sehingga sulit untuk bersaing dan berkembang.

"Rata-rata perajin memiliki kemampuan membatik dari warisan tradisional orang tua mereka. Saya ingin, meskipun mereka bekerja untuk membuat karya tradisional, tapi saya coba membuat pekerjaan mereka ini menjadi pekerjaan yang profesional," lanjut pria kelahiran 1975 ini.

Dia memproduksi berbagai macam motif batik dalam bentuk kain dan pakaian jadi seperti kemeja. Meksipun tidak hanya sedikit dari produksinya yang dijual secara langsung melalui toko milikinya, namun banyak menyuplai produk-produk tersebut ke pedagang dan toko-toko di Pulau Jawa dan Sumatera.

"Kalau toko milik saya hanya ada satu di Pekalongan, dan satu di Jakarta. Untuk suplainya, terutama ke kota-kota besar seperti Jakarta, Solo Semarang, Yogyakarta, Medan, Padang dan Bali. Sistemnya, mereka pesan dulu, baru kita kirim," katanya.

Harga jual produknya pun beraneka ragam. Untuk kain batik, dijual mulai Rp 50 ribu hingga Rp 1 juta per meter. Sedangkan pakaian jadi mulai Rp 300 ribu sampai Rp 2 juta. Hal ini tergantung kerumitan dan lamanya waktu pengerjaan dari sebuah motif batik.

"Karena membuat batik itu bisa dibilang mudah, tapi juga sulit. Ada yang butuh waktu setahun baru selesai, karena kerumitannya," lanjutnya.

Dengan bangga, dia menyatakan batik hasil produksinya ini pernah diguna oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Ani Yudhoyono dan beberapa menteri pada jajaran kabinet. Motif yang paling digemari yaitu perpaduan antara motif kuno dan motif moder seperti motif khas Pekalongan dan motif flora fauna.

Kendati batik telah menjadi pakaian nasional dan banyak digunakan pada acara-acara formal dan non-formal bahkan telah dikenal di seluruh dunia, namun dia menyebutkan masih banyak kendala dan tantangan yang harus dihadapi para perajin batik dalam negeri.

Salat satu kendala terbesar yaitu masih tergantungnya pengrajin Indonesia terhadap bahan baku seperti pewarna serta kain katun dan sutera dari luar negeri, terutama dari China. Dia bahkan menyebutkan, 80% diantaranya merupakan produk impor.

"Kalau bahan baku lokal, kualitasnya masih kurang bagus. Kain lokal contohnya, kalau diwarnai kadang menjadi belang, warnanya tidak menyeluruh. Tapi kita juga sedang mencari cara bagaimana bahan baku lokal ini punya kualitas yang bagus," terangnya.

Impor bahan baku ini dirasakan sangat memberatkan pengusaha batik seperti dirinya saat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah, sehingga harga bahan baku impor pun meningkat. "Kalau sudah begitu, mau tidak mau memang harus menaikkan harga jual produk kami, tapi agar tidak terkesan mahal, kami mengimbangi dengan kreativitas motif yang tinggi," tutur Failasuf.

Sebelum usaha berkembang seperti sekarang, dia pun pernah merasakan kesulitan dalam berbisnis, bahkan hingga ditipu ratusan juta rupiah. Namun hal tersebut tidak membuatnya kapok untuk terus menjalankan bisnisnya.

"Jadi mereka membeli barang saya, hanya DP (uang muka) dulu, kemudian barangnya diambil semua, tetapi setelah itu tidak membayarkan pelunasannya. Itu sering saya alami, nilainya mulai dari Rp 10 juta sampai Rp 100 juta, tapi saya tidak pernah kapok. Saya rasa dalam bisnis, hal semacam itu wajar terjadi," tegasnya.

Walaupun belum menjual produk batiknya keluar negeri, namun dirinya sering mengikuti pameran di negara lain seperti Jepang, Malaysia dan Dubai. Kedepan dia berharap produk batiknya tersebut mampu menembus pasar internasional sehingga produk batik asal Pekalongan semakin menggeliat. (Dny/Ndw) (Ndw) - See more at: http://bisnis.liputan6.com/read/833126/menenun-rupiah-dari-kampung-batik-pekalongan?wp.trkn#sthash.aQAJ7xOm.dpuf

Batik Indonesia - Batik Pewarna Alam ke Tenun Serat Pohon Pisang

ebatik tas sepatu purple ekxlusif batik cirebonBatik Indonesia - Batik Pewarna Alam ke Tenun Serat Pohon Pisang.Siapa yang tidak kenal dengan hasil batik Indonesia rancangan Rosso. Kreasinya yang sudah mendunia itu, identik dengan batik pewarna alam dari dedaunan. Tanpa mengandung bahan kimia dan mode batik responsif dengan tren, menjadi pilihan bagi penggemar batik.

Banyak tahun mengkhususkan diri dengan batik Indonesia berwarna alam, kini Rosso mengenalkan tenun dari serat pohon pisang.

Menggunakan serat pisang pada produksi tekstil, memiliki kelebihan tertentu dibandingkan dengan serat-serat lainnya.

Material yang melimpah menjadi harapan akan keberlanjutan industri serat pohon pisang. Didukung iklim tropis Indonesia yang dimiliki memastikan suburnya pertumbuhan pohon pisang.

Prakteknya, masih memerlukan keterlibatan kalangan luas untuk mengembangkan produk ini. Khususnya bagi pengusaha serta orang yang peduli terhadap lingkungan. Dalam hal ini Rosso sudah memulai memproduksi benang dan kain dari serat pisang dengan hasil yang memuaskan.

Rosso mengungkapkan setelah dicoba melalui proses tenun, ke depan produk ini bisa menjadi industri rumah tangga yang sangat bagus untuk kalangan masyarakat luas. Keberadaan tekstil serat pisang sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu, namun belum menarik banyak kalangan untuk pengembangan lebih luas.

"Satu pohon bisa menghasilkan 55 kilo serat, jadi disitu tergantung jenisnya dan dari sana bisa kita olah menjadi tekstil," kata Rosso, Perancang Busana yang memiliki workshop di Bantul, Yogyakarta pada ajang Indonesia Fashion Week 2014 di Jakarta Convention Center, Kamis (20/2/2014).

Hanya membutuhkan waktu kira-kira dua minggu untuk membuat pohon pisang menjadi benang. Berawal ketika pelepah pohon ini dipotong selanjutnya dengan teknik dan teknologi tersendiri dikembangkan menjadi cikal bakal kain. Begitulah ungkapan pemilik Rosso Batik indonesia ini, ketika menceritakan sambil menunjukkan video pembuatan benang dari pohon pisang.

Saturday, March 22, 2014

Batik Indonesia-Batik Made In Indonesia Paling Banyak Diekspor ke AS

Batik-trusmi-cirebon-indonesia-murah-banget-bangetBatik Indonesia-Batik `Made In` Indonesia Paling Banyak Diekspor ke AS.Geliat batik Indonesia di pasar luar negeri tak perlu diragukan lagi. Nama batik semakin mendunia sejak UNESCO mengukuhkan kain tradisional batik Indonesia tersebut sebagai Warisan Budaya Indonesia Tak Benda pada tahun 2009.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Gusmardi Bustami mengungkapkan, meski ada batik Malaysia dan Nigeria, namun batik sebenarnya itu adalah milik Indonesia.

"Ekspor Batik Indonesia ke mancanegara cukup besar atau 10% dari total ekspor tekstil yang mencapai US$ 12 miliar pada tahun lalu," ungkap dia saat ditemui di acara Pembukaan Gelar Batik Nusantara (GBN) di Jakarta, KRabu (17/7/2013).

Dia mengaku, total nilai ekspor Batik Indonesia sampai dengan akhir 2012 menembus US$ 278 juta atau melonjak tajak dibanding tahun sebelumnya mencapai US$ 5,88 juta.

"Sedangkan dari periode Januari-Maret 2013, nilai ekspor Batik Indonesia sebesar US$ 50,07 juta. Jumlah ini juga meningkat dari periode yang sama 2012 sebesar US$ 42,26 juta," paparnya.

Gustami merinci, Amerika Serikat (AS) sebagai negara tujuan ekspor menyumbang kontribusi terbesar dari total penjualan ke luar negeri di kuartal I 2013 menjadi US$ 21,18 juta dari kuartal I tahun lalu sebesar US$ 17,46 juta.

"Negara ekspor batik kedua terbesar adalah Jerman dengan nilai penjualan dari US$ 2,68 juta menjadi US$ 4,52 juta. Sedangkan Korea Selatan berada di urutan ketiga dengan nilai ekspor US$ 3,94 juta sampai akhir Maret ini dari periode sama 2012 sebesar US$ 1,8 juta," tukasnya.

Gustami bilang, dengan konsisten menggunakan batik dalam kegiatan formal maupun informal akan mendorong pertumbuhan jumlah permintaan batik sehingga memberikan dampak positif terhadap nilai perdagangan Batik Indonesia.

Thursday, March 20, 2014

Batik Indonesia Dari Trusmi Mulai Di Export Ke Jepang

ebatik di export ke jepang batik indonesiaBatik Indonesia dari Trusmi mulai di export ke Jepang.Berbagai motif batik Indonesia banyak terdapat di berbagai daerah, termasuk batik Trusmi Cirebon, Jawa Barat. Salah satu Desa di Jawa Barat ini menghasilkan batik Cirebon dengan motif mega mendung, keratonan, 3 dimensi, motif apusan dll. Walau tak tak seterkenal batik Solo, salah seorang produsen batik Trusmi mampu mengantongi omzet Rp 5 milyar per bulan.

Kekayaan budaya dan busana Batik Indonesia memang tidak ada duanya, seperti halnya kain batik Indonesia. Di Pulau Jawa, batik khas tidak hanya bisa ditemui di Yogyakarta, Solo, Pekalongan, maupun Garut. Ada juga batik khas kota Cirebon yang dinamakan batik Trusmi.

Batik Cirebon khas salah satu kabupaten di Jawa Barat ini memiliki motif aneka ragam seperti mega mendung, motif keratonan, motif 3 dimensi, motif apusan. Warna-warna batik Cirebon didominasi warna Cerah.

Batik Trusmi tak hanya didapatkan di jalan Trusmi Kulon Nomor 148 Plered Cirebon tetapi bisa juga didapatkan di Batik IBR, Batik Raja, Batik Trusmi Cabang Medan, Batik Trusmi Cabang Jakarta dan Batik Trusmi Cabang Surabaya.

Salah satu produsen batik trusmi adalah Ibnu Riyanto. Ia memproduksi batik trusmi baik cap maupun tulis dengan merek Trusmi. Ibnu memproduksi batiknya di sebuah kampung bernama Kampung Batik Cirebon. Kampung itu sendiri terletak di salah satu jalan Syekh Datul Kahfi nomor 148 Plered Cirebon. Batik-batik hasil produksi Ibnu dipajang dalam tokonya seluas 1 hektar yang menyatu dengan Futsal Centre dan Kuliner khas Cirebon. Berbagai motif batik Cirebon dipajang, untuk batik tulis dipajang di dalam lemari kaca untuk menghindarkan dari serbuan debu-debu jalanan.

Dibantu oleh 200 pekerja, Ibnu mampu menjual batik hingga ribuan potong pakaian. Namun untuk batik tulis, dia tidak memproduksinya tiap waktu, sebab, batik tulis dibuat hanya kalau ada pesanan. Batik cap dijual dengan harga Rp 55.000 hingga Rp 125.000 per helai dengan ukuran 2,4 m panjang dan lebar 1,05 m.

Walaupun hanya memproduksi batik tulis kalau pesanan datang, tiap bulan sekali rata-rata Ibnu mampu memproduksi tiga ratus helai batik tulis. "Permintaan batik Cirebon tulis memang kurang. Mungkin karena mahal," katanya. Ia mengatakan, permintaan batik tulis biasanya datang dari pasangan yang akan menikah.

Tak hanya dijual di Cirebon, batik Trusmi buatan Ibnu juga melalui webnya di www.ebatiktrusmi.com mampu memasarkan batik trusmi ke berbagai daerah di Pulau Jawa, Sumatera hingga ke Jepang. Ia mengatakan, dari beberapa pameran yang diikuti di India, Malaysia, Singapura, dan Australia, minat masyarakat luar akan batik Trusmi cukup bagus. Oleh karena itu, di masa datang, Ibnu berencana menampilkan batik Trusmi dan membuka showroom batik di luar negeri.

Wednesday, March 19, 2014

Batik Indonesia Banyak Pakai Kapas Impor

BBBatik Cirebon - Batik Indonesia Banyak Pakai Kapas Impor.Sebagai produk budaya kebanggaan Indonesia, industri batik nasional ternyata masih dilanda persoalan cukup berat. Hingga saat ini, ketergantungan para pengrajin Batik Indonesia pada kapas impor ternyata masih sangat tinggi.

Presiden Komisaris Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) Romi Oktabirawa mengatakan impor kapas nasional selama ini berasal dari negara-negara seperti China, India, bahkan Amerika Serikat (AS). "Masih tinggi impornya" kata dia, di Jakarta, Kamis (6/3/2014).

Romi menjelaskan, Indonesia sebetulnya pernah berupaya mengembangkan kapas untuk industri batik nasional. Pemerintah diantaranya membuka lahan pertanian kapas di di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Sayangnya, upaya pengembangan tersebut gagal karena iklim Indonesia yang tidak cocok.

Industri batik nasional, ujar Romi, juga tak bisa menggantungkan kebutuhannya dari pasar impor. Terlebih lagi, salah satu negara penghasil kapas dunia, AS, juga mulai menghadapi persoalan berkurangnya lahan pertanian kapas. Lahan kapas di negara ini telah beralih fungsi menjadi areal perkebunan seperti jagung.

Untuk menghindari krisis pasokan bahan baku, GKBI mengusulkan agar pengrajin Batik Indonesia dan industri kombeksi nasional bisa beralih menggunakan serat kayu putih. Produk substitusi ini bisa didatangkan dari Austria. "Sedang optimalkan serat kayu putih".

GKBI mengaku kecewa dengan ketergantungan yang cukup tinggi pada produk kapas impor. padahal dengan potensi alam yang sangat banyak, Indonesia seharusnya mampu memasok kebutuhan industri batik nasional dari dalam negeri.

Minimnya penggunaan teknologi dituding menjadikan penyebab tak optimalnya pengembangan kapas di tanah air. Hingga saat ini, Indonesia masih harus mengadopsi teknologi dari luar negeri.