Batik Cirebon

Friday, January 31, 2014

Batik Indonesia - Pasar Batik Jepang Belum Tergarap

Ebatik-Sutra-Pola-Baron-Abstrak-Elang-Batik-CirebonBatik Indonesia - Pasar Batik Jepang Belum Tergarap.Pasar batik Jepang belum tergarap karena selama ini pengrajin batik Indonesia kesulitan memasarkan hasil kerajinan ke ”Negeri Sakura” secara berkesinambungan. Padahal, minat masyarakat Jepang atas batik Indonesia tinggi.Berulang kali sejumlah komunitas masyarakat ataupun organisasi kebudayaan Jepang mengundang pengrajin batik Indonesia untuk menampilkan karyanya di Jepang. Seniman dan desainer batik Nita Azhar, misalnya, menerima setidaknya 10 kali undangan peragaan busana batik di Jepang selama 15 tahun terakhir.

Pada 3-6 Oktober, Nita diundang mengikuti Sakura Collection 2013 di Tokyo yang diselenggarakan Japan Adventure untuk menampilkan karya batik yang dipadukan dengan kain obi (ikat pinggang) khas Jepang.”Di sini saya menampilkan tiga karya kain Batik yang dipadu dengan blus kimono dan obi masing-masing bertema ukir Jawa Dwipa bermotif flora,” katanya di sela-sela persiapan peragaan busana di Tokyo, Kamis (3/10/2013), seperti dilaporkan wartawan Kompas, Irene Sarwindaningrum.

Menurut Nita, keikutsertaannya itu merupakan upaya untuk mempromosikan batik Indonesia khas Jawa. Hal ini penting guna terus menghidupkan minat masyarakat Jepang terhadap batik.Pencinta budaya Indonesia, Izumi Nagano, mengatakan, peminat batik Indonesia di Jepang banyak. Namun, sangat sulit membeli batik Indonesia di Jepang. ”Kami suka dengan motif dan kekhasannya,” katanya.Menurut Izumi, banyak orang Jepang belajar membatik di Yogyakarta dan Solo. Keterampilan ini sebagai hobi dan gaya hidup.

Sumber: BeritaBatik

Wednesday, January 22, 2014

Batik Indonesia - Penjualan Batik Oriental di Pusat Grosir Batik Trusmi Naik

IMG_6319Batik Indonesia - Penjualan Batik Oriental di Pusat Grosir Batik Trusmi Naik. Menjelang puncak perayaan Tahun Baru China atau Imlek yang jatuh pada 31 Januari 2014, pedagang batik indonesia yang menjual batik bermotif oriental terus kebanjiran orderan. Alhasil, hingga saat ini, angka penjualan yang juga dikenal dengan sebutan batik china tersebut melonjak hingga lebih dari 50%. Pedagang batik Indonesia di Pusat Grosir Batik Trusmi, Sally Giovanny, mengatakan, dalam dua pekan terakhir, angka penjualan batik Indonesia bermotif oriental melonjak signifikan. "Minat masyarakat untuk membeli batik Indonesia jenis ini pun dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan," katanya kepada Trusmi.com, di Cirebon, Selasa (21/1).

Dikatakannya, dalam dua pekan terakhir, pihaknya telah menerima order cukup banyak dari konsumen, dengan berbagai ukuran dan motif oriental. Kebanyakan pelanggannya adalah warga-warga etnis Tionghoa yang akan menyambut Tahun Baru Imlek. "Imlek tahun lalu saja penjualan saya bisa mencapai lebih dari Rp 200 juta/hari, dan kemungkinan besar tahun ini bakal meningkat karena saat ini orderan meningkat hingga lebih dari 50% dibandingkan tahun lalu," katanya.

Hal senada diungkapkan Ibnu Riyanto, penjual batik Trusmi di Cirebon. Dikatakannya, dalam beberapa tahun terakhir, batik oriental terus mendapat tempat di hati warga keturunan setiap kali menjelang Imlek. Batik Indonesia dengan dominasi warna merah dan emas tersebut kini telah menjadi salah satu identitas yang tak bisa dipisahkan dalam perayaan Imlek di Cirebon. "Dengan keadaan demikian, kami cukup beruntung karena dengan sendirinya angka penjualan batik oriental terus mengalami peningkatan," katanya.

Soal pasokan, dia menyebutkan, kebanyakan dagangannya dia produksi sendiri bersama team, yg diproduksi jauh hari sebelum perayaan Imlek.

Selain untuk kebutuhan Imlek, batik-batik tersebut juga dijual untuk kebutuhan sehari-hari seperti untuk pakaian kantor, meski penjualannya tidak sebanyak batik-batik dengan motif tradisional Indonesia. Pada saat menjelang Imlek seperti inilah, penjualan batik oriental tersebut meningkat cukup drastis.

Monday, January 20, 2014

Toko Batik Indonesia - Dagang Batik, Gadis 19 Tahun Ini Hasilkan Rp 3,5 Miliar

IMG_6291Toko Batik Indonesia - Dagang Batik, Gadis 19 Tahun Ini Hasilkan Rp 3,5 Miliar .Normalnya, seorang yang baru lulus dari universitas (fresh graduate) memiliki pendapatan bulanan pada kisaran jutaan atau belasana juta. Bagi Dea Valencia Budiarto hal tersebut tak berlaku. Masih dalam usia 19 tahun, ia sudah memiliki pendapatan miliaran rupiah per tahun. Semua itu berkat ketekunannya menggeluti bisnis fesyen budaya, Batik Kultur by Dea Valencia.

Sejak usia 16 tahun, Dea sudah menggali kreativitasnya. Ketidaksanggupannya membeli batik Indonesia yang ia inginkan justru menjadi awal mula kesuksesannya. Dea menggeledah batik-batik lawas, menggunting sesuai pola yang ia suka, dan membordirnya. Ia ciptakan pakaian dengan hiasan batik lawas berbordir tadi."Ini pakai kain batik Indonesia lawas yang udah lama disimpan di lemari misalnya. Kan sering rusak, entah dimakan ngengat ataupun bolong kena banjir. Ya nggak bisa disimpan lagi kan? Makanya itu saya gunting-guntingin, misalnya bunga-bunganya. Nah dari situ saya bordir dan digabung dengan kain lain," ungkap Dea kepada Beritasatu.com di acara Wirausaha Muda Mandiri, Istora Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (19/1).

Dari situ terciptalah kreasi Batik Indonesia Kultur. Awal produksi, Dea hanya membuat 20 potong pakaian. Kini? Ada 800 potong Batik Kultur yang dipasarkan per bulannya. Dengan harga Rp 250.000 - 1,2 juta, nilainya setara dengan Rp 3,5 M per tahun atau Rp 300 juta per bulan.Dea memulai Batik Indonesia Kultur benar-benar dari nol. Bahkan ia sendiri yang menjadi model Batik Kultur. Wajar karena wajah Dea terbilang cocok di hadapan kamera. Bahkan Dea sendiri yang mendesain produk Batik Kultur padahal ia mengaku tak bisa menggambar.

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.Salah satu prinsip yang dipegang Dea dalam memasarkan produknya sederhana dan menarik. Ia tak mau menjual barang yang ia sendiri tak suka."Kalau sudah jadi pasti saya bikin prototype ukuran saya sendiri. Saya coba, saya suka apa enggak? Karena saya nggak mau jual barang yang saya sendiri nggak suka. Jadi barangnya itu kalau dilihat tidak terlalu nyentrik, lebih seperti pakaian sehari-hari," imbuh gadis asli Semarang.

Tak cuma batik Indonesia, Batik Kultur pun merambah ke tenun ikat. Khusus yang satu ini, Dea harus membelinya di Jepara, tepatnya di Desa Troso yang merupakan sentra tenun ikat. Jika dulu hanya membeli beberapa meter kain, kini sekali kulakan Dea membeli tak kurang dari 400 meter tenun ikat.Sebagai alumni program studi Sistem Informasi Universitas Multimedia Nusantara, Dea paham betul kekuatan internet untuk pemasaran. Kain Batik Indonesia Kultur 95 persen memanfaatkan jaringan internet dalam urusan permasalahan.Dea menjadikan Facebook dan Instagram sebagai katalog dan media komunikasi dengan konsumennya. Dari sana, referensi untuk Kain Batik Indonesia Kultur menyebar dari mulut ke mulut. Integrasi dunia maya dan dunia nyata menyukseskan bisnis Dea.

Namun sama seperti bisnis sukses lain, Batik Kultur menapak bukan tanpa hambatan. Dea pernah dibuat depresi selama seminggu dan menjadi tak produkti karena masalah hak paten."Hambatan... dulu pernah masalah di hak paten. Sebenarnya dulu namanya bukan Batik Kultur by Dea Valencia tapi Sinok Culture. Tapi waktu diurus nama mereknya ternyata sudah ada yang pakai merek Sinok. Saya sempat stress selama seminggu. Karena nama Sinok sangat berarti buat saya. Sinok adalah nama panggilan saya sejak kecil," tutur Dea.Melihat segala pencapaian Dea, sulit mempercayai Batik Kultur ada di tangan seorang perempuan muda usia 19 tahun yang sudah memegang gelar sarjana komputer.

"Saya dulu nggak tahu kenapa sama ibu 22 bulan udah disekolahkan. Umur lima tahun udah masuk SD. SMP dua tahun, SMA dua tahu. Jadi itu 15 tahun masuk kuliah. Tiga setengah tahun kuliah, jadi umur 18 udah lulus," jelas Dea."Setelah lulus pulang ke rumah di Semarang fokus bisnis. Tiap bulan nambah dua tiga pegawai, jadi kini sudah ada 36," imbuh Dea yang tinggal bersama orangtuanya di Gombel, Semarang.Meski masih muda dan memiliki pendapatan miliaran rupiah, Dea tak melupakan lingkungan sekitar. Menarik jika mendengar pengakuan Dea tentang beberapa karyawannya."Saya juga mempekerjakan karyawan yang misal nggak ada kaki tapi tangannya masih bisa kerja. Penjahitnya ada enam yang tuna rungu dan tuna wicara. Pertimbangannya? Giving back to society (timbal balik kepada masyarakat)," terang Dea.

Sunday, January 19, 2014

Toko Batik Indonesia - Peminat Batik Trusmi Cirebon Makin Luas

batik-cirebon-kunjungan-dede-yusuf-owner-batik-trusmi-ibnu-riyanto-batik-trusmi-cirebon-indonesia-murah-bangetToko Batik Indonesia - Peminat Batik Trusmi Cirebon Makin Luas. Batik Indonesia sudah diakui oleh UNESCO sebagai karya bangsa Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2009. Sehingga batik Indonesia menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia sebagai kekayaan budaya.

Batik Indonesia digunakan sebagai seragam dinas oleh bangsa Indonesia, baik itu di dunia pemerintahan dan pendidikan. Batik-batik yang terkenal di Indonesia di antaranya batik Solo, Pekalongan, Yogyakarta, Malang, Madura dan Batik Cirebon.

Batik Cirebon juga tidak kalah menariknya dengan batik Indonesia yang ada di kota-kota lain karena motifnya. "Motif klasik dengan warna cerah ini menjadi pembeda batik Cirebon dengan batik-batik kota lain," kata Ibnu Riyanto, selaku Pengrajin Batik Cirebon.

Desa Trusmi Kulon No 148 Plered Cirebon terdapat showroom batik terbesar terlengkap dan termurah se-indonesia dengan nama Pusat Grosir Batik Trusmi, Trusmi menjadi pusat Pengrajin Batik Indonesia di Cirebon. Di desa ini banyak pengrajin batik yang sudah memproduksi batik khas Cirebon yang bisa ditemui dengan mudah di pinggir-pinggir jalan.

Harga yang dipatok juga terjangkau mulai dari Rp 25-70 ribu. "Ada yang sampai Rp 1,5 juta, Mas. Kalau yang harga segini kami jarang memproduksinya karena penjualannya agak sulit," ujar Ibnu Riyanto.

Dengan harga yang terjangkau, Ibnu Riyanto sudah bisa memasarkan batiknya sampai ke kota-kota besar, seperti Jakarta, Medan dan Surabaya."Kami sering ikut pameran batik. Pernah ikut pameran di Jakarta Expo. Kalau di Surabaya pamerannya di gedung negara Grahadi," tambahnya.

Saturday, January 18, 2014

Batik Indonesia - Pesanan Kain Batik Cirebon Untuk Singapura Meningkat

IMG_6283Batik Indonesia - Pesanan Kain Batik Cirebon Untuk Singapura Meningkat. Para pengrajin batik Cirebon di daerah Pantura Kabupaten Cirebon mengaku pesanan Kain batik Indonesia tulis tradisional motif klasik batik cirebon untuk pasar ekspor tujuan Singapura meningkat.

“Pesanan berbagi jenis batik tulis khas Cirebon dari Singapura terus meningkat, biasanya sekitar 500 kain batik Cirebon, kini bisa mencapai sekitar 800 kain,” kata Eha, salah seorang pengrajin batik di Trusmi Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa.Ia menuturkan, aneka motif batik Cirebon tulis klasik seperti Paksinaga Liman, Megamendung, Patran Keris, Singa Payung, Singa Barong, sangat diminati oleh konsumen asal Singapura.

Ia menambahkan, liburan pergantian tahun pesanan batik Cirebon tulis klasik tersebut cukup menggirahkan, diharapkan permintaan terus meningkat, sehingga usaha batik mampu mendongkrak ekonomi masyarakat Cirebon.Menurut dia, aneka batik klasik Paksinaga Liman, Megamendung, Patran Keris, Singa Payung, Singa Barong, dalam proses pembuatannya membutuhkan keahlian khusus, sehingga produksinya terbatas.

Selain membeli dari pengrajin batik Cirebon langsung, konsumen juga biasa membeli batik di Showroom Pusat grosir Batik Trusmi karena hanya di Pusat Grosir Batik Trusmi konsumen luar negeri selain membeli batik khas Cirebon juga bisa sambil berkunjung ke sanggar pembatikan yang ada di batik trusmi itu. Di sanggar pembatikan konsumen bisa langsung belajar membatik menggunakan canting dan alat cap batik. Selain belajar membatik juga konsumen diajarkan cara mewarnai kain batik dan juga proses pelorodan batik.

Cirebon merupakan daerah penghasil Kain batik Indonesia yang memiliki motif unik dan khas. Yang harus dipertahankan sehingga mampu bersaing dan diminati oleh pasar ekspor seperti Singapura dan Eropa.Kusmanto pengrajin batik tradisional lain mengaku, motif batik klasik Cirebon yang kini semakin diminati pasar ekspor baik Asia dan Eropa pada dasarnya dapat digolongkan menjadi lima jenis, yaitu Wadasan, Geometris, Pangkaan, Byur, Semarangan.Ia menambahkan, Wadasan, jenis ini ditandai dengan adanya beberapa ornamen dan benda-benda yang bersumber dari Kraton Cirebon, sering disebut batik Keraton seperti, Singa Payung, Naga Saba, Taman Arum, Mega Mendung, corak yang diminati pasar Eropa.

Friday, January 17, 2014

Batik Indonesia - Pengusaha Batik Cirebon Ibnu Riyanto Tampil di Wirausaha Muda Mandiri Expo 2014

ibnu riyanto batik trusmi cirebonBatik Indonesia - Pengusaha batik Cirebon Ibnu Riyanto dan Sally Giovanny tampil dengan Ebatik Tas Sepatu Orange Ukir Batik Cirebon Exclusive dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri Expo 2014 yang berlangsung di Istora, Senayan, Jakarta (15/1/2014). Ibnu Riyanto pengusaha Batik Termuda yang memimpin PT Trusmi Group dengan Showroom Batik Indonesia terluas di Dunia tampil pada ajang yang diikuti sekitar 136 wirausaha muda terpilih se Indonesia.

Pada pameran yang berlangsung selama tiga hari itu, Ibnu Riyanto membawa aneka produk kain batik Cirebon, kain batik mega mendung, Ebatik Tas Sepatu Orange Ukir Batik Cirebon Exclusive, dan Aneka produk dari pengrajin batik indonesia. Batik Cirebon merupakan salah satu hasil karya pengrajin batik Trusmi yang memiliki ciri tersendiri antara motif yang elegan dan warna cerah yang dikombinasikan dengan warna lainnya.

Pusat Grosir Batik Trusmi adalah Showroom batik Indonesia yang mengusung konsep wisata belanja oleh-oleh khas Cirebon.Di area seluas 5 hektar tersebut selain dibangun showroom terbesar se-Indonesia juga terdapat Beberapa lapangan futsal dan Sanggar Pembatikan. Di sanggar pembatikan tersebut pengunjung yang ingin berbelanja batik cirebon bisa sambil belanjar dan melihat proses pembuatan batik mulai dari pelukisan warna dengan menggunakan canting dan malam yang dilelehkan kemudian pewarnaan dan proses pelorodan malam pada kain batik Indonesia tersebut.

Selain Ibnu Riyanto dengan Pusat Grosir batik Cirebon -nya, pada ajang tersebut juga dipamerkan produk Ebatik Tas Sepatu Orange Ukir Batik Cirebon Exclusive dan tas rajut karya Sally Giovanny. Beragam kreasi Ebatik Tas Sepatu Orange Ukir Batik Cirebon Exclusive dihasilkan Sally. Kreasi dan keunikan menjadi kekuatan produk Sally Giovanny.

Produk lain yang menarik pengunjung adalah Gendongan Bayi Modern hasil karya Yani Adriani. Mirip kaos dangan tambahan tempat bayi di bagian depan, Yani memilih memanfaatan bahan baku spandex untuk karyanya.

Ajang Wirausaha Muda Mandiri Expo merupakan kegiatan yang diselenggarakan Bank Mandiri guna memerikan kesempatan kepada anak-anak muda memamerkan karya atau hasil usahanya yang selama ini telah diberikan fasilitas.

Pusat Grosir Batik Trusmi adalah Showroom batik Indonesia yang mengusung konsep wisata belanja oleh-oleh khas Cirebon.Di area seluas 5 hektar tersebut selain dibangun showroom terbesar se-Indonesia juga terdapat Beberapa lapangan futsal dan Sanggar Pembatikan. Di sanggar pembatikan tersebut pengunjung yang ingin berbelanja batik cirebon bisa sambil belanjar dan melihat proses pembuatan batik mulai dari pelukisan warna dengan menggunakan canting dan malam yang dilelehkan kemudian pewarnaan dan proses pelorodan malam pada kain batik Indonesia tersebut.

Thursday, January 16, 2014

Batik Indonesia - Pembatik Dimotivasi Menjadi Wirausaha Produksi Batik Cirebon

batik-cirebon-peresmian-rekor-muriBatik Indonesia - Pembatik Dimotivasi Menjadi Wirausaha Produksi Batik Cirebon.Para pembatik Desa Trusmi, Kecamatan Weru terus dimotivasi untuk bisa menjadi wirausaha batik Cirebon, melalui kegiatan pembinaan, pelatihan maupun pameran batik Indonesia.

Menurut Kepala Desa Trusmi, Sri Purwati, pemerintah desa telah melakukan berbagai kegiatan, salah satunya lomba membuat desain batik Cirebon, pentas pembuatan batik serta pameran produk batik buatan para pengrajin batik desa setempat.

"Kami terus memotivasi agar mereka bisa mandiri untuk menjadi wirausaha, tidak seperti sebelumnya hanya sebagai buruh batik saja," katanya, Selasa (14/1).

Dia juga menilai pendampingan dari Bank Indonesia Cirebon sangat membantu para pengrajin batik untuk meningkatkan semangat mereka menjadi wirausaha baru.

"Di Desa Trusmi ada sekitar 300 pembatik. Mereka sekarang dibentuk menjadi lima kelompok untuk dilatih perwarnaan, manajemen usaha dan pemasaran," katanya.

Hasil dari pembinaan, sambung dia para pengrajin kini telah mendapat pesanan pembuatan batik Cirebon baik dari instansi di Cirebon maupun dari daerah Jakarta.

"Kami harap dengan menjadi wirausaha mandiri akan meningkatkan taraf perekonomian warga untuk memajukan desanya," kata dia.

Pengurus kelompok batik Trusmi, Rohimah mengemukakan pelatihan dan pendidikan tentang pewarnaan yang difasilitasi BI Cirebon, diharapkan membuat pengrajin batik semakin mandiri.

Mereka bisa memproduksi hingga tahap finishing. Dengan demikian akan menciptakan pelaku usaha baru serta kesejahteraan perekonomian perajin meningkat.

"Kami sangat beruntung mendapatkan pelatihan karena telah memberikan wawasan cara membatik mulai dari proses desain sampai pewarnaan. Bila pengrajin sudah bisa mewarnai kedepannya mereka tidak akan menjadi pengobeng (buruh batik, Red) lagi, melainkan produsen batik Cirebon," katanya.

Sumber: SuaraMerdeka