Batik Cirebon
- Banyaknya perempuan Kabupaten Kendal Jawa Tengah, yang menjadi tenaga
kerja wanita (TKW) ke luar negeri, membuat Sri Lestari (34), warga
Jambearum Patebon Kendal, prihatin.
Berangkat dari keprihatinannya
tersebut, wanita yang bekerja di Dinas Perindustrian dan Perdagangan
ini, mencoba mengurangi banyaknya perempuan Kendal menjadi TKW. Salah
satunya dengan memberi keterampilan pada ibu-ibu yang ada di desa
Jambearum Patebon.
“Apalagi dengan adanya berita 2 TKI yang dibunuh di Hongkong. Ini sangat mengerikan,” kata Lestari, Kamis (6/11/2014).
Lestari
menjelaskan, hampir setiap rumah yang ada di desanya, Jambearum, selalu
ada keluarganya yang menjadi TKW. Hal itu sangat memprihatinkan.
Apalagi, anak-anak yang ibunya menjadi TKW, menurut Lestari, lebih
cenderung kurang terurus.
“Saya prihatin dengan kondisi itu. Lalu
saya mencoba memberi pelatihan ketrampilan pada ibu-ibu yang ada di desa
Jambearum,” ujarnya.
Awal pelatihan yang diberikan untuk ibu-ibu,
adalah menjahit. Sebab ada salah satu warganya yang bisa menjahit.
Namun karena tidak ada mesin jahit untuk mendukung pelatihan, lalu
diganti menjadi pelatihan membatik.
Kebetulan, pada tahun 2010, di
Dinas tempat Lestari bekerja, ada program pelatihan membatik. “Yang
ikut, awalnya cuma satu ibu bernama Asri. Tapi, kemudian saya dengan
Asri mengumpulkan ibu-ibu yang lain, untuk member ketrampilan membatik,”
akunya.
Hasilnya, cukup menggembirakan. Sebab ada banyak ibu-ibu
yang tertarik untuk menekuni ketrampilan membatik. Apalagi, pemerintah
Kabupaten Kendal, sedang giat-giatnya memperkenalkan batik Kendal kepada
masyarakat.
“Sekarang di desa Jambearum, sudah ada 15 pembatik, 3 diantaranya penjahit yang membuat pakaian batik,” ucapnya.
Jambe Kusuma
Sri Lestari mengaku, cukup sulit menyadarkan ibu-ibu supaya tidak
berangkat ke luar negeri untuk menjadi TKW. Namun begitu, ia akan terus
berusaha, supaya niatnya untuk mengurangi TKW di desanya bisa berkurang.
“Niat yang baik, Insya Allah akan menghasilkan sesuatu yang baik. Untuk itu, saya akan terus berusaha,” tambahnya.
Lestari
menceritakan, sekarang ini sudah ada beberapa TKW, yang pulang ke rumah
dari luar negeri dan tidak mau berangkat lagi. Mereka memilih menjadi
pembatik. Apalagi, mereka sudah merasakan, hasil dari membatik. “Tapi
masih banyak juga, yang pulang lalu berangkat lagi menjadi TKW,” akunya.
Batik buah karya warga Jambearum itu, kata Lestari, diberinama Batik Jambe Kusuma.
Lantaran
ketekunan ibu-ibu dalam melestarikan kain yang menjadi citra
kepribadian bangsa tersebut, April 2013 lalu, desa Jambearum di tetapkan
sebagai desa batik oleh Dirjen Kementerian Pariwisata dan Dinas
Pariwisata Jateng. Pasalnya, di desa itu, saat ini sudah terproduksi,
berbagai batik.
Mulai dari berbagai jenis batik berikut motifnya,
hingga pakain motif batik. Selain itu, juga pernak-pernik batik seperti,
sapu tangan, tempat tisu, dasi, tutup nasi, taplak dan lainnya.
Batik
buatan desa ini, sudah dijual ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan
diekpor ke beberapa negara tetangga. “Memang sejak awal niat kami
membatik sebenarnya untuk mengurangi warga Jambearum untuk jadi TKW dan
meningkatkan ekonomi keluarga. Jadi bukan untuk mendapatkan gelar Desa
Wisata,” kata Sri Lestari, yang juga menjadi ketua Paguyuban Batik
Jambearum.
Kegigihan Lestari dalam mengembangkan batik di desanya,
juga mendapat perhatian khusus dari Bupati Kendal, Widya kandi Susanti.
Sehingga ibu 2 anak ini, mendapat penghargaan Bupati Award.
“Tak
hanya mendapatkan gelar Desa Wisata, Desa Jambearum juga dijadikan
sebagai desa vokasi. Yakni desa yang bisa dijadikan tempat untuk belajar
oleh desa lain,” kata Lestari.
Batik Cirebon
- Setelah mendapat berbagai gelar tersebut, desa Jambearum banyak
mendapat bantuan. Mulai dari pemerintah Kabupaten hingga Dirjen
Kementrian Pariwisata. Namun, diakuinya untuk berkembang sebagaimana
desa wisata yang utuh, saat ini Jambearum masih sangat jauh. Sebab,
belum terpenuhinya sarana dan prasarana yang layak untuk jadi Desa
Wisata.
“Plang pintu masuk bertuliskan Desa Wisata Batik juga
belum ada, Pengelolaan secara profesional sebagai tempat wisata juga
belum dibentuk. Disamping itu, juga belum ada promosi akan desa ini, ke
berbagai daerah maupun negara-negara lain,” akunya.
Dampak positif
menekuni usaha batik, diakui oleh salah satu warga Jambearum,
Sugiarti,( 32). Ia mengaku terbantu dengan adanya kegiatan batik yang ia
tekuni. Sugiarti mengaku, dulunya ia adalah buruh pabrik, yang setiap
hari meninggalkan rumah untuk bekerja di pabrik.
Namun setelah
menekuni batik, kini ia bisa konsen di rumah dengan membatik. Satu batik
tulis, yang ia hasilkan, bisa terjual dengan harga Rp 225.000-Rp
300.000 per lembarnya. Waktu pengerjaannya, sekitar 2-3 hari.
“Modal
awalnya sekitar Rp 100.000-Rp 130.000 untuk satu kain batik. Jadi dalam
sebulan saya bisa mengerjakan 10-12 kain batik tulis. Keuntungan saya
Rp 1,7 juta-Rp 2 juta per bulan,” akunya.
Keuntungan tersebut,
menurutnya, jauh lebih baik kalau dibandingkan harus kerja di pabrik,
atuapun kerja jadi TKW. Sebab kerja jadi buruh pabrik maupun TKW tidak
bisa dekat dan mengurus pekerjaan rumah tangga.
Ia berharap kepada
pemerintah membantu mempromosikan desa Jambearum sebagai desa wisata.
Dengan begitu, batik yang dihasilkan oleh ibu-ibu Jambearum, bisa
semakin banyak terjual.(Batik Cirebon)
Saturday, November 8, 2014
Thursday, November 6, 2014
Batik Cirebon - Ternyata Batik Berjaya Masih Buatan Cina
Batik Cirebon
- Seruan Presiden Jokowi untuk menggunakan wastra atau kain Indonesia
disambut positif. Menurut Sativa Sutan Aswar, seruan Presiden tentang
kain lokal tak bisa sebatas slogan.
"Enggak
bisa cuma slogan pemerintah dan jadi kebanggaan semata. Kita perlu
memperhatikan akar utamanya yaitu serat benang lokal," kata pakar dan
pengamat kain yang biasa disapa Atidje ini, Senin, 3 November 2014 di
Jakarta.
Batik Cirebon
- Atidje melihat kelemahan masyarakat Indonesia, salah satunya adalah
menggunakan produk impor. "Kita bangsa pengimpor. Bangga pakai kain
batik, tapi pernahkah terpikir bahwa serat benang sebagai bahan dasar
kain batik masih diimpor dari Cina," kata Atidje yang rajin blusukan ke
daerah untuk memberikan pelatihan pembuatan kain di berbagai daerah ini.
Istri
mendiang pengamat ekonomi, Arief Aryman ini mengatakan Cina dan India,
memiliki industri kain yang sangat rapi dari hulu ke hilir.
Hal itu, ia menambahkan, bisa dipahami mengingat kebudayaan dan tekstil mereka sudah ratusan bahkan ribuan tahun. "Sebenarnya bangsa kita enggak kalah, tapi kita enggak pernah serius, kita terbiasa dengan barang jadi, bukan menciptakan dari bahan dasarnya," kata dia.
Hal itu, ia menambahkan, bisa dipahami mengingat kebudayaan dan tekstil mereka sudah ratusan bahkan ribuan tahun. "Sebenarnya bangsa kita enggak kalah, tapi kita enggak pernah serius, kita terbiasa dengan barang jadi, bukan menciptakan dari bahan dasarnya," kata dia.
Atidje
adalah lulusan Desain Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut
Teknologi Bandung, dan Ecole Des Hautes Etudes en Sciences Sociales
(EHESS) Paris. Untuk meraih gelar doktor, ia menulis tesis 'Evolusi
Industri Tekstil di Sumatera Barat'.(batik cirebon)
Batik Cirebon - Mojokerto Gagal Realisasikan Seragam Batik Lokal untuk PNS
Batik Cirebon
- Kota Mojokerto gagal merealisasikan program wajib batik lokal untuk
semua PNS dan seluruh pegawai di bawah Pemkot Mojokerto untuk tahun ini.
Meski demikian, sedang diupayakan untuk pengadaan batik lokal dari
seluruh pebatik dan UMKM senilai Rp 1,4 miliar itu untuk tahun depan.
Kegagalan
Pemkot merealisasikan pengadaan seragam batik yang dipasok dari UMKM
lokal itu informasinya karena ada kegamangan dari Pemkot.
Karena
nilai pengadaan seragam batik lokal itu kalau ditotal anggarannya Rp 1,4
miliar perlu dukungan regulasi. Apalagi Pemkot Mojokerto dengan
"kreativitasnya" memecah anggaran itu kepada setiap SKPD atau Dinas.
Setiap
SKPD sudah menganggarkan tidak sampai Rp 200 juta untuk pengadaan batik
lokal ini. Dengan memecahnya di setiap SKPD harapannya bisa langsung
memberdayakan pelaku UMKM dan pebatik.
Namun sampai saat ini,
program ini makin tak jelas. Saat dikonfirmasi, Wali Kota Mojokerto
Mas'ud Yunus mengaku masih mengupayakan. "Sedang berproses. Agak
tertunda. Paling Januari 2015 semua sudah tuntas," kata Mas'ud, Selasa
(4/11/2014).
Mas'ud mengaku masih perlu konsultasi dengan BPK atas
rencana pengadaan batik untuk seluruh anak buah dan stafnya. Ini demi
akuntabilitas dan tidak berdampak hukum.
Meski demikian, dia yakin
bahwa program wajib batik lokal bagi seluruh PNS di Pemkot Mojokerto
bakal terealisasi. Sebab, menurut Mas'ud tujuan utama program ini
semata-mata ingin memberdayakan para pebatik dan UMKM.
Sementara
itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Mojokerto Hariyanto mengakui bahwa di
dinasnya termasuk yang paling besar anggarannya untuk pengadaan seragam
batik lokal tersebut, Bisa di atas Rp 200 juta. "Namun pengadaan ini
sama dengan pengadaan seragam di sekolah-sekolah. Jadi sebenarnya tak
ada masalah dengan pengadaan seragam batik di setiap SKPD," kata
Hariyanto.
Batik Cirebon
- Sementara itu berkembang wacana bahwa gagalnya realisasi pengadaan
seragam batik di Pemkot Mojokerto itu juga karena saat ini Kepala Dinas
Koperasi dan UMKM Ahmad Zainudin menjadi tersangka dugaan korupsi Tanah
Kas Desa.
Saat ini ditahan di Lapas. Dinas ini yang membawahi
seluruh perajin batik dan UMKM sehingga berpengaruh pada proses
pemilihan para perajin batik dan UMKM batik.
Sebenarnya, program
wajib batik lokal nagi seluruh pegawai dan PNS Kota Mojokerto itu
direncanakan Juli sudaj berbatik ini. Batik lokal sebagai kebanggaan
daerah ini gagal terealisasi.
Anggaran Rp 1,4 miliar itu tersebar di belasan SKPD. Pengadaannya diserahkan SKPD dan tidak perlu lelang.
Anggaran Rp 1,4 miliar itu tersebar di belasan SKPD. Pengadaannya diserahkan SKPD dan tidak perlu lelang.
"Sudah
disepakati satu motif batik khas Mojokerto yang dipilih. Namun kami
masih menunggu cetakan motif untuk dicap. Jadi nanti bukan batik tulis,
melainkan batik cap," kata Sekertaris Diskoperindag UKM Kota Mojokerto
Indah Soelistiowati Andayani.
Realisasi batik ini dilakukan
menyusul kebijakan Wali Kota Mas’ud Yunus yang mewajibkan PNS mengenakan
batik lokal pada hari kerja.
Ini telah dituangkan dalam Perwali 16 Tahun 2014. APBD 2014 juga telah mengalokasikan Rp 1,4 miliar untuk belanja batik daerah bagi 3.269 PNS.(batik cirebon)
Ini telah dituangkan dalam Perwali 16 Tahun 2014. APBD 2014 juga telah mengalokasikan Rp 1,4 miliar untuk belanja batik daerah bagi 3.269 PNS.(batik cirebon)
Wednesday, November 5, 2014
Batik Cirebon - Batik yang Kian Modern dan Bordir Nan Segar
Batik Cirebon
- Kekayaan budaya Indonesia tak habis-habisnya dieksplor. Berbagai
kreasi dari kain tradisional yang diolah dengan beragam gaya pun menjadi
keunikan tersendiri. Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda)
Provinsi DKI Jakarta kembali menunjukkan bahwa kain tradisional kini tak
lagi ketinggalan zaman.
Dengan
dukungan dari PLT Ketua Umum Dekranasda Provinsi DKI Jakarta Veronika
Tjahaja Purnama, tiga desainer menghadirkan tema Urban Art Contemporer
di panggung Jakarta Fashion Week 2015. Rumah Kebaya, Batik Chic, dan
Batik Riana Kesuma mengusung konsep tradisional berbalut kekinian yang
segar!
Batik Cirebon
- Vielga Wenninda, sang desainer dari Rumah Kebaya, kali ini,
mengangkat keindahan bordir bunga. Bordir handmade ini memang menjadi
sebuah ciri khas dari busana kreasinya. Namun ia tak melulu menghadirkan
kebaya, melainkan potongan busana siap pakai yang modern.
Siluet
yang dihadirkannya lebih bergaya formal dengan model blus berkerah dan
berlengan panjang. Blus ini dipadukan dengan celana atau rok pendek
berwarna senada. Sepintas, beberapa busananya terlihat seperti busana
kerja.
Beberapa
busananya juga diberi sentuhan lengan lonceng (melebar di bagian
pergelangan tangan atau separuh lengan). Model blazer panjang dua lapis
yang dihadirkannya juga memberi kesan feminin.
Meski
terlihat apik dan formal, namun ia terlihat kurang berani memadu
madankan warna dalam busananya. Hampir semua busananya memiliki paduan
warna yang senada antara atasan dan bawahannya. Hanya satu busana yang
dipadukan dengan warna berbeda, yaitu blus panjang turtle neck plus
bawahan hitam.
Yang
terlihat menonjol, Vielga juga melengkapi tampilan modelnya dengan
menggunakan tas jinjing kecil yang dibentuk mirip lampion, lengkap
dengan bordir bunga di setiap sisinya. Hanya saja, lagi-lagi, tas ini
punya warna yang senada dengan bajunya.
Kreasi Batik Modern
Rumah
Kebaya, Novita Yunus dari Batik Chic memilih untuk memadukan berbagai
warna dalam kreasinya. Sekalipun ia mengambil tema BC Toko Merah, Novita
memperkuat tampilan warna merah dengan warna lain, seperti cokelat dan
abu-abu.
Batik
Cirebon - Dalam pembuatan busananya, ia mengaku terinspirasi dari
bangunan tertua di kawasan Kota Tua Jakarta, Toko Merah. Bangunan yang
kini disewakan sebagai function hall ini memiliki eksterior khas
berwarna merah.
Koleksi
bertema Toko Merah ini banyak dipengaruhi oleh batik lasem bermotif
bunga dan burung. Ia juga banyak memadukannya dengan motif kulit ular,
kulit sapi dan ulap doyo (bunga anggrek hitam dari Kalimantan).
Batik
Cirebon - Dominasi aksen bordir berwarna merah tua dan keemasan membuat
tampilan busana dengan siluet kebaya, blus dan dress terlihat makin
elegan. Sebagai padanannya, Novita menggunakan kain yang dibentuk wiron,
rok lipit A-line, celana pendek dan celana panjang.
Senada
dengan Batik Chic, Batik Riana Kesuma juga memiliki misi membuat batik
jadi lebih modern. Kali ini, Riana Kesuma tak hanya menghadirkan kreasi
busana dari batik, tapi juga dari kain tenun.
Sekitar delapan outfit
yang ditampilkan terbuat dari batik tulis halus klasik dipadu batik
khas Jakarta. Batik ini memiliki motif flora dan fauna. Sentuhan bordir
dan paduan bahan lace yang digunakan sebagai kardigan. Ia juga
menghadirkan busana bergaya cape dengan tangan lonceng dan celana
berpipa lebar dengan motif yang cukup ramai. (batik Cirebon)
Monday, November 3, 2014
Batik Cirebon - Ini Batik Tirta Intanpari Khas Karanganyar

Batik Cirebon - Sayembara desain batik khas Kabupaten Karanganyar akhirnya memperoleh pemenang lomba dengan karya bertajuk 'Tirta Intanpari'. Aneka corak perlambang bangunan heritage, flora, fauna serta potensi wisata khas Karanganyar terangkum di karya ini.
Muhammad Qomar, pencipta karya Tirta Intanpari ini, merupakan salah seorang peserta sayembara yang berhasil menggabungkan desain batik konvensional dengan corak pesanan juri, yakni Candi Cetho dan Gunung Lawu. Pria asal Sroyo, Jaten ini juga berimprovisasi menyematkan corak burung derkuku dan air terjun di bidang kain berwarna dasar hijau. Selain dirinya, dewan juri menetapkan Tri Wulandari asal Sleman DIY dan Dina Sri Pratiwi asal Jaten Karanganyar, masing-masing sebagai juara II dan III.
Batik Cirebon - "Juara II dengan desain gambar candi Sukuh dan juara III dengan motif bergambar Candi Cetho. Semua pemenang menggunakan corak sesuai pesanan kami. Tapi masing-masing memiliki kualitas berlainan. Corak terbaiklah yang berhak meraih predikat juara I," kata Kabid Pemasaran Wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Karanganyar, Eny Fauziah kepada 'KRjogja.com', Minggu (02/11/2014).
Ditambahkan, hasil karya Qomar tersebut bakal ditampilkan dalam gelaran fashion show duta wisata Karanganyar pada puncak acara HUT Karanganyar, pertengahan bulan ini. Oleh panitia, corak batik yang dihasilkan Qomar kemungkinan bakal direvisi, meski hanya di sisi pewarnaan saja.
Diceritakan Qomar, Tirta Intanpari diciptakan usai dirinya memperoleh bahan gambar dari sejumlah referensi. Kemudian dengan bantuan program komputer grafis, dirinya menuangkan simbolisasi Gunung Lawu, burung derkuku yang bermakna sebagai asal usul nama Karanganyar, air terjun sebagai potensi sumber daya alam, hingga ornamen-ornamen macam daun teh, candi cetho hingga pohon tebu.
Atas keberhasilannya, pria yang telah empat tahun menggeluti profesi sebagai desainer batik tersebut berhak mendapatkan hadiah sebesar Rp 15 Juta dan piagam. Sebagaimana diberitakan, 77 peserta mengikuti sayembara desain batik khas Kabupaten Karanganyar. Setelah diseleksi, 51 peserta lolos tahapan administratif. Kemudian tim juri memilih 10 nominator dari hasil desainnya untuk maju di ajang final. (batik Cirebon)
Sunday, November 2, 2014
Batik Cirebon - Bazaar Fashion Festival , Muncul Motif Batik Baru
- Tas Batik Cirebon
Batik Cirebon
- Batik tidak melulu dikenal dengan motif-motif klasik, seperti parang
dan sawunggaling. Beberapa desainer kini merancang batik dengan motif
baru. Sebut saja Nonita Respati dari Purana Batik, Iwet Ramadhan dan
Erica Lisani dari Tikprive, serta Bai Sumarlono dari Populo, label lokal
yang belakangan juga merambah batik pada gelaran Neo Batik di Bazaar
Fashion Festival.
“Saya mengambil motif batik dari tegel-tegel
kuno di rumah saudagar-saudagar kaya di pesisir Jawa,” ujar Nonita
Respati di Jakarta Convention Center akhir pekan lalu. Noni mengambil
motif flora yang terukir pada tegel di rumah saudagar keturunan
Tionghoa.Ada rasa peranakan pada koleksi berupa gaun dan blus dari sutera Thailand dengan warna merah, kuning muda, biru, dan hijau muda yang diperagakan pada runway. Meski berasal dari ubin kuno, rancangannya tidak serta-merta menjadi jadul. Sebaliknya, Noni membuat gaun-gaun yang menarik untuk dilihat dan blus yang bisa digunakan untuk bekerja ataupun acara santai seperti batik motif batik cirebon yaitu mega mendung.
Pendekatan berbeda soal konsep Neo Batik dilakukan oleh Tikprive. “Kami menggunakan batik karya Bapak Hanafi dari Pekalongan,” kata Iwet Ramadhan. Batik-batik itu dikerjakan di atas denim sehingga menjadi pakaian yang lebih modern.
Konsep batik pada denim sendiri sebenarnya bukan hal baru. Denim-denim bercorak flora itu jadi terlihat sangat 90-an. Apalagi ditambah dengan iringan lagu Bebas karya rapper Iwa K. Belum cukup, ada penutup kepala berwarna putih ala rapper yang membuat para penonton benar-benar terbawa pada nostalgia masa 90-an.
Bai Sumarlono dari Populo justru membuat batik dengan motif klasik yang banyak dikenal di Barat. Mulai dari geometri segitiga hingga motif gigi anjing dan tulang ikan herring. Populo yang juga memasuki usia dua dekade tahun ini membuatnya menjadi sangat urban. Motif mereka tertera mulai dari sepatu hingga hoodie.(batik cirebon)
Saturday, November 1, 2014
Batik Cirebon - Perkaya Motif Batik Lumajangan, Disbudpar Libatkan Masyarakat
Batik Cirebon
- Motif batik Lumajangan khas Kabupaten Lumajang sejauh ini belum
keluar dari mainstream. Pakem-nya masih bernuansa potensi alam di Kota
Pisang ini. Ada motif atau corak pisang, gunung semeru dan lainnya
dengan warna yang ngejreng. Motif dan corak itu banyak dimunculkan para
pegiat kerajinan batik di berbagai kampung batik di sejumlah Kecamatan.
Namun,
saat ini motif dan corak Batik Lumajangan akan ditambah lagi
khasanahnya. Caranya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar)
Kabupaten Lumajang menggandeng masyarakat secara langsung untuk
terlibat.Kami membuka kesempatan masyarakat, tidak hanya di Lumajang saja. Namun jujga terbuka peluang bagi para pegiat design atau motif Batik dari berbagai daerah untuk memperkaya khasanah Batik Lumajangan ini, kata Indrijanto, SH Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lumajang kepada Sentral FM, Jumat (31/10/2014).
Lebih jauh dikatakannya, kegiatan ini dalam bentuk lomba dalam rangka mengembangkan potensi batik di Lumajang sendiri, agar tidak terkesan lamban. Peluang untuk masyarakat bisa memperkara khazanah Batik Lumajangan ini, kita buka sejak 10 Oktober lalu dan ditutup 25 November mendatang.
Batik Cirebon - Dimana, masyarakat baik pelajar maupun umum, karena kita membuka dua kategori, bisa mengirimkan design batiknya ke Kantor Disbudpar Kabupaten Lumajang. Kami akan memberikan reward dengan total sebesar Rp. 30 juta bagi mereka-mereka yang telah mengirimkan design terbaik, bebernya.
Design terbaik, masih kata Indrijanto, nantinya akan dinilai langsung oleh tim yang terdiri dari Balai Besar Kerajinan dan Batik Jogjakarta, Disbudpar Provinsi Jatim dan Budayawan Lumajang.
Harapan besarnya, Batik Lumajang yang masih baru berkembang bisa didorong sebagaimana Batik daerah lainnya. Ciri khasnya bisa terbangun, coraknya juga menjadi pakem tersendiri. Kita dalam proses menggali dan mencari khazanah Batik Lumajangan ini sendiri, ungkapnya
Dari upaya ini, lanjut Indrijanto, motif dan corak Batik yang berhaisl dihimpun, akan disalurkan kepada Paguyuban Batik Lumajang yang menaungi pegiat kerjainan batik itu sendiri.
Tujuannya, nantinya muncul kreatifitas yang lebih. Sebab, pegiat kerajinan batik juga akan kita libatkan dalam kegiatan ini, meski tidak dalam kepanitiaan. Motif dan design batik yang kami himpun nanti, tentu akan melewati proses penyempurnaan. Karena, ada tokoh perbatikan yang menjadi tim penilai, urainya.
Tidak hanya itu saja, design motif dan corak batik yang dihimpun, nantinya juga akan divisualisasikan dalam bentuk kerajinan batik yang akan ditampilkan dalam design batik siap pakai.
Tentu kami akan melibatkan designer untuk itu. Yang jelas, motif dan corak batik yang kami himpun, akan kita tampilkan langsung kepada masyarakat dalam bentuk peragaan busana batik yang melibatkan model. Ragam motif dan corak batik juga akan kami bukukan, pungkas Indrijanto. (batik cirebon)
Subscribe to:
Posts (Atom)




