Batik Cirebon

Tuesday, February 10, 2015

Batik Cirebon - Bocah Indonesia dan Australia Menyatu dalam Batik

batik cirebon
Batik Motif Hewan-Hewan
Batik Cirebon - Gambar bermacam motif warna warni hiasi kotak-kotak kain batik, yang dipajang di dinding. Citraaan cacing, bintang laut, kupu-kupu, burung, anjing, manusia, serta tumbuhan penuhi banyak potongan kain persegi. Ada juga lukisan bermotif abstrak.

Gambar pada kain bahan membatik itu yaitu karya siswa sekolah basic serta sekolah menengah pertama dari Australia serta Indonesia. Siswa-siswa itu melukis diatas kain memakai akrilik sablon sekurang-kurangnya pada 240 kotak kain. Karya mereka tampak pada pameran berjudul People and Place di Independent Art-Space & Management Yogyakarta, 1-15 Februari 2015.

Batik Cirebon - Pameran itu sisi dari praktik seniman Australia Elly Kent yang tengah meniti pendidikan doktoral program Visual Art di Australian National University. Elly mengadakan pameran untuk lihat karya seni anak Indonesia yang bersua dengan anak Australia. “Hubungan antar-bangsa nampak dari pertemuan mereka dalam karya seni, ” kata dia.

Terkecuali lukisan pada kain batik, ada 32 karya lukis pada kanvas yang di buat anak-anak. Lukisan pada batik itu yaitu karya siswa sekolah pendidikan anak umur awal Gajah Wong Yogyakarta, SD Tumbuh Primary School, serta SD Kanisius Sumber di Kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah.

SD Tumbuh menngikutsertakan 60 siswa serta SD Kanisius 30 siswa. Sedang, dari Australia yaitu siswa dari Turner Primary School serta Mulwaree High School.

Beberapa karya lukis anak-anak di jual dalam pameran itu untuk didonasikan pada SD Kanisius Sumber di lereng Merapi yang tengah melakukan renovasi gedungnya. “Siswa sekolah itu untuk sesaat belajar dirumah masyarakat di seputar lereng Merapi, ” kata dia.

Batik Cirebon - Elly Kent yang hidup bolak balik Indonesia-Australia menyebutkan melalui pameran itu ia mau lihat bagaimanakah dua negara itu sama-sama bersua serta sharing info ihwal seni budaya. Di Australia, anak-anak berimajinasi perihal Indonesia. Sebagian sekolah, kata Elly mengajarkan Bhs Indonesia. Elly tertarik untuk mengemukakan info perihal seni budaya Indonesia. Satu salah satunya yaitu batik.

Ia menghimpun siswa dari beberapa sekolah untuk belajar perihal batik. Elly tunjukkan peralatan serta motif batik pada siswa Australia, yaitu canting serta kain batik. Siswa lantas melukis pada kain batik memakai cat akrilik sablon. “Mereka bebas melukis dengan tema apa sajakah. Object yang di buat yaitu hal yang ada di seputar mereka, ” kata Elly.

Dia mencontohkan seseorang siswa Australia melukis mercusuar kota. Di kota itu ada sungai besar, namun kerap kekeringan. Aktivitas yang melibatkan sekurang-kurangnya 150 anak itu di gelar pada 2013 di Australia serta dipamerkan di sekolah-sekolah negeri Kanguru itu. 

Diskusi perihal batik didokumentasikan dalam film dokumenter berjudul People and Place in Turner and Mulwaree yang diedit oleh Michal Glikson. “Mereka sangatlah ketertarikan serta mau mengetahui Indonesia lebih dekat, ” kata dia. ( Batik Cirebon )

Monday, February 9, 2015

Batik Cirebon - Batik Handayani Geulis Kenalkan Motif Cepot

Batik Cirebon - Industri kecil menengah Batik Handayani Geulis Kota Bogor, Jawa Barat, akan memperkenalkan motif Cepot sebagai unggulan dalam perhelatan akbar tahunan perayaan Cap Go Meh 2015.

"Kami mendapat kesempatan menjadi salah satu pendukung acara Pawai Cap Go Meh 2015, dengan menyediakan kostum bagi peserta memakai batik Cepot," kata Sri Ratna Handayani Budhie, pendiri industri kecil menengah (IKM) Batik Handayani Geulis, di Bogor, Senin (9/2).

Ratna mengatakan, pihaknya akan memproduksi pakaian panitia dan peserta pawai Cap Go Meh 2015 yang berjumlah lebih dari 100 orang.

Menurutnya pihaknya sengaja ikut terlibat dalam perhelatan akbar tahunan tersebut selain sebagai ajang promosi juga sekaligus melestarikan batik di Kota Bogor.

"Batik Cepot ini merupakan motif produksi Batik Handayani Geulis, kita sudah mematenkannya. Dan motif cepot paling banyak dicari oleh penyuka batik," katanya.

Selain memproduksi batik, IKM Batik Handayani Geulis yang sudah berdiri sejak 2011, yang juga aktif terlibat dalam pelestarian budaya membatik bagi masyarakat Bogor.

Batik Cirebon - Berbagai kegiatan untuk memperkenalkan batik diselenggarakan oleh IKM Batik Handayani Geulis, seperti "Batik Goes To School" ke sejumlah sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA di Kota Bogor.

"Budaya batik harus dilestarikan, agar terus berkembang. Mengenalkan batik sejak dini, mengetahui sejarahnya lalu belajar membuatnya dapat menimbulkan rasa cinta, dengan rasa itu maka timbul jiwa untuk melestarikannya," kata Ratna.

Batik Handayani Geulis merupakan satu satu dari dua pengrajin sekaligus pengrajin batik asli Bogor yang melestarikan dan menciptakan motif-motif khas Kota Hujan itu.

Saat ini Batik Handayani Geulis telah memiliki 35 motif batik khas Bogor seperti Bunga Bangkai, Kujang, Mojang Jajaka, dan yang paling banyak disukai adalah motif Cepot.

"Pada perayaan Cap Go Meh nanti, kami akan meluncurkan seragam batik motif Cepot on the street," katanya.

Pagelaran pawai budaya Cap Go Meh akan diselenggarakan pada awal Maret, melibatkan sekitar 5.000 orang peserta memeriahkan pesta rakyat yang digelar setiap tahun di Kota Bogor.( Batik Cirebon )

Sunday, February 8, 2015

Batik Cirebon - Membanjirnya Batik Cetak dari Luar Negeri Perlu Dibendung

batik cirebon
Ilustrasi : Para Pengrajin Batik
Batik Cirebon - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga mengatakan membanjirnya kain cetak yang bermotif batik dari luar negeri yang masuk ke Indonesia sekarang ini sudah luar biasa dan ini perlu dicegah, agar kain batik produk nasional bisa selamat.

"Kain batik cetak motif batik yang masuk ke Indonesia itu harganya murah dan kalau dibiarkan terus industri kecil batik yang ada di tanah air bisa punah karena kalah bersaing dari barang asal luar negeri dan juga akan merusak budaya batik yang banyak mengandung filosofi bagi orang Jawa," kata Menkop UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga pada sarasehan dengan para perajin di Rumah Sinten Solo, Sabtu (7/2).

"Saya sedang memikirkan dengan Kementerian Perdagangan untuk mencegah atau mengurangi masuknya kain batik printing yang bermotif batik dari luar negeri masuk ke Indonesia, karena kalau ini batik ini tidak dilindungi lama-lama bisa hilang kalah dengan kain printing motif batik itu," katanya.

Batik Cirebon - Ia mengatakan, produksi kain batik di Indonesia pada umumnya dikerjakan oleh UKM dan sangat jarang yang dilakukan oleh perusahaan berskala besar, untuk ini persoalan tersebut harus dipikirkan dan dicarikan jalan yang terbaik.

Menyinggung mengenai sekarang sulitnya mendapatkan tenaga terampil baik bidang batik, ukir atau yang lainnya, Menkop UKM mengatakan hal ini sudah terjadi di mana-mana dan tidak di Solo saja, di Bali sekarang juga sudah susah untuk mendapat tenaga pemahat yang terampil.

"Generasi muda kita dengan adanya kemajuan teknologi sekarang memang sudah banyak tidak berminat menekuni bidang ini, untuk itu hal ini harus dicarikan jalan lain dan tidak hanya dengan peralatan yang modern saja, tetapi harus mencetak tenaga yang terampil tersebut," katanya.

Sarasehan tersebut diikuti oleh para pelaku usaha kecil dari berbagai jenis, seperti perajin batik, meubel, kulit, makanan, dan lain-lain, ukir dan lain-lain.( Batik Cirebon )

Saturday, February 7, 2015

Batik Cirebon
Sejumlah perajin sulam menyelesaikan sulaman selendang sambung terpanjang, di auditorium Gubernuran Sumatera Barat, Padang, Sumbar,
Batik Cirebon - Boomingnya pasar produk batik diharapkan bisa menjadi inspirasi para perajin sulam untuk mengembangkan kreasinya menggunakan motif-motif batik yang sedang terkenal di masa kini seperti motif batik cirebon yaitu mega mendung.

“Saya berharap produk sulam juga dapat berkontribusi bagi kesejahteraan pengrajin sulam,” kata Bintang Puspayoga saat membuka pameran Pesona Kriya Sulam yang berlangsung di Museum Tekstil Jakarta, Jumat (6/2). Pameran berlangsung hingga Minggu, 8 Februari 2015.

Karena itu, isteri Menteri Koperasi dan UKM ini meminta para perajin sulam memperhatikan inovasi dan kreativitas dalam berproduksi karena itu juga akan berpengaruh bagi kemajuan para perajin sulam sendiri.

Sehingga menarik minat masyarakat untuk mencintai sulam. “Bahkan tak hanya mencintai saja, tapi juga membeli produk sulam,’’ tambahnya.

Batik Cirebon - Diharapkan juga pameran ini dapat menjadi ajang edukasi, motivasi dan inspirasi bagi masyarakat untuk mencintai produk sulam dalam bentuk motif apapun.

Untuk itu, pelaksanaan pameran harus diagendakan secara berkesinambangun, karena melalui momentum semacam ini akan memberikan ruang kepada pengrajin sulam untuk dapat memperkenalkan prioduknya kepada masyarakat.

“Upaya melestarikan dan mengembangankan produk sulam ini menjadi tanggungjawab semua pihak,” ujarnya.

Agar produk sulam berkembang, ia mengaku perlu dibangun sinergi dengan Kemenkop dan UKM untuk mendorong tumbuhnya partisipasi masyarakat, baik sumber daya manusia maupun dukungan pemasaran produk sulam.

Ketika terbentuk kelompok-kelompok pengrajin, Bintang Puspayoga meminta adanya inisiatif dari perajin sulam untuk membentuk koperasi. Sehingga nantinya dapat dukungan dan pendampingan secara langsung dari kementerian, termasuk mediasi permodalan.( Batik Cirebon )

Friday, February 6, 2015

Batik Cirebon - Banjir, Produksi Batik Turun Hingga 30 Persen

Batik Cirebon
Proses Penjemuran Kain Batik
Batik Cirebon - Akibat genangan air yang tak berkesudahan karena hujan yang cukup lama di Pasirsari, Kelurahan Pasirkratonkramat, berdampak pada pengrajin batik di sana.

Para pengrajin batik di wilayah yang terkenal menjadi sentra batik cap itu mengalami penurunan produksi cukup drastis, yaitu mencapai hingga 30 persen.

Ketua Serbapas, Sodikin HS mengungkapkan, kondisi rendaman air yang menggenang dalam waktu yang lama. Pastinya mengganggu proses produksi. Jika dalam kondisi normal pengrajin dapat memproduksi satu kain batik dalam waktu empat sampai lima hari, sedangkan dalam kondisi seperti saat ini, produksi kain batik memerlukan waktu setidaknya sepuluh hari.

“Selain itu, risiko produksi juga tinggi. Misalnya saat dijemur tidak hati-hati bisa jatuh, dan harus ulang prosesnya. Atau jika menggunakan obat reaktif, terkena sedikit air saja bisa pudar dan harus mengeluarkan ongkos lagi untuk produksi ulang,” tuturnya.

Dengan segala risiko itu, pengusaha batik pada kondisi normal dapat memproduksi 30 sampai 100 kodi, kini hanya bisa memproduksi maksimal 20 sampai 70 kodi kain batik.

Dengan produksi yang mengalami penurunan, berdampak juga pada tenaga kerja yaitu buruh batik. Mereka tak akan berangkat satu minggu penuh. Sebab dikatakan Sodikin, rata-rata pengrajin batik hanya produksi lima hari atau enam hari dalam seminggu, tetapi setiap harinya tidak penuh.

Batik Cirebon - Diakui Sodikin, kondisi demikian sudah menjadi siklus alam, dan akan terjadi setiap tahun. Artinya, pengrajin batik akan selalu mengalami fase penurunan produksi dalam waktu tertentu. “Makanya kami tetap berharap turun tangan pemerintah. Setidaknya untuk membantu mengatasi banjir di sini,” harap dia.

Terpisah, Kabid Koperasi dan UMKM pada Disperindagkop dan UMKM, Edi Harsoyo saat dikonfirmasi mengenai keluhan pengrajin tersebut menyatakan, bahwa untuk bulan-bulan ini bisnis batik memang mengalami penurunan. 

Bukan hanya karena faktor cuaca, banyak faktor lain yang membuat penurunan mencapai 20 persen. “Cuaca hanya salah satunya, seperti di Pasirsari. Tapi kalau secara umum penyebabnya banyak, termasuk bahan baku yang naik, faktor adanya Pileg dan Pilpres tahun lalu hingga dampak kebakaran Pasar Klewer. Ada penurunan tapi masih dalam tahap wajar. Itu masukan dari temen-temen pengusaha,” terangnya.

Menurut Edi, kondisi demikian memang sudah menjadi siklus tahunan di mana pada bulan-bulan tertentu batik akan loyo dan akan kembali naik saat ada momentum tertentu. Tapi diakuinya, penurunan yang terjadi tahun ini lebih parah dari tahun sebelumnya. “Saya juga cek di Pasar Grosir Setono dan hasilnya sama. Di sana juga terjadi penurunan. Kondisi seperti ini berarti merata,” tandasnya.( Batik Cirebon )

Thursday, February 5, 2015

Batik Cirebon - Pembuatan Warna Batik Ramah Lingkungan

Batik Cirebon
Batik Adalah Salah Satu Warisan Budaya Indonesia Yang Paling Terkenal di Dunia dan Diakui UNESCO
Batik Cirebon - Berbahayanya bahan kimia yang digunakan dalam proses pembatikan membuat pewarna alam makin dilirik. "Kami memilih pewarna alam karena lebih mudah didapat dan tidak membuat limbah," ujar Peneliti Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta Dwi Suheryanto.

Meskipun berbahan alam, Dwi menuturkan, warna batik tidak mudah pudar. Menurut Dwi, bertahannya warna batik bergantung pada cara pengikatan dan pencelupan saat pembuatannya. "Saya punya kain batik yang sudah berumur 100 tahun dan warnanya masih bagus," katanya saat ditemui di workshop batik alam, di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Proses pembuatan pewarna alami batik ini ternyata cukup mudah. Hampir semua bahan dasar batik alami diambil dari bagian tumbuhan, seperti daun, kulit, batang, biji, buah dan bunga. Khusus untuk buah, pengrajin hanya perlu menumbuk dan mengambil sari-sari buah sebagai pewarna.

Sedangkan untuk bagian tumbuhan lainnya harus direbus terlebih dahulu dengan perbandingan 1 kilogram bahan dicampur 10 liter air. Bahan tersebut direbus selama satu setengah jam hingga menghasilkan 5 liter ekstrak pewarna.

Batik Cirebon - Warna yang dihasilkan pun beragam, tergatung dari proses fiksasi atau pengikatan warna. Untuk warna pekat, dianjurkan menggunakan tanjung atau tenosulfat. Adapun kapur menghasilkan warna lebih muda, sedangkan tawas mebuat warna lebih terang. Semakin sering batik dicelup maka akan semakin awet warnanya.

"Kalau pakai bahan kimia biasanya tiga kali celup sudah bagus warnanya, tapi kalau pakai bahan alam perlu dicelup sampai lima belas kali atau lebih," ujar dosen seni rupa UPI Badi Sobandi. Banyaknya pencelupan pun tergantung dari warna yang diinginkan, kata Badi, apakah ingin lebih muda atau pekat.

Dwi menyarankan menggunakan kain berbahan selulosa dan protein, seperti sutra, wool, rayon, dan katun, dalam pembuatan batik alam. "Kain itu bisa membuat warna batik awet," tuturnya.

Ia pun berharap batik alam ini dapat membuka peluang usaha industri kreatif di Indonesia, sebab selain ramah lingkungan, batik alam memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan batik dengan pewarna kimia. Harga batik alam bisa mencapai 3 kali lipat dari batik biasa.( Batik Cirebon )

Wednesday, February 4, 2015

Naga Motif Batik Cirebon Untuk Tahun Baru Imlek

Batik Cirebon
Ilustrasi : Naga Aplikasi Pada Saat Tahun Baru Imlek
Batik Cirebon - Jogja Chinese Art & Culture Centre (JCACC) siap menyambut Tahun baru Imlek (Xin Cia) 2566 tahun ini. Dalam rangka merayakan Imlek, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) akan kembali digelar untuk yang kesepuluh kalinya.

Acara Imlek di Yogyakarta kali ini bakal dilaksanakan pada tanggal 1-5 Maret 2015 mendatang, dan bertempat di Kampung Ketandan, Malioboro, Yogyakarta.

Perwakilan JCACC menyampaikan tentang acara pelaksanaan PBTY yang bakal digelar selama lima hari tersebut. Banyak acara yang akan ditampilkan untuk menyambut Imlek tahun ini termasuk parade kembang api yang meriah.

Disebutkan, satu yang menarik diantaranya adalah Karnaval Naga yang sekaligus akan ditampilkan sebagai perlombaan, untuk memperebutkan piala Sri Sultan Hamengkubowono X. Peserta karnaval dijadwalkan berasal dari wilayah Yogya dan sekitarnya, serta Jawa Tengah.

Batik Cirebon - Sebagai panitia pelaksana, JCACC akan melaksanakan beberapa acara dalam PBTY ini. Bazar makanan khas Tionghoa , lomba menyanyi, baca puisi Mandarin serta pameran budaya wayang cina jawa (Wacinwa).

Budaya yang akan ditampilkan nantinya juga disebut merupakan perpaduan budaya Cina - Jawa. Pada serangkaian gelaran acara PBTY sebelumnya, panitia menyebut gelaran tahunan ini selalu mendapat sambutan baik, mulai dari masyarakat, pemerintah daerah maupun Gubernur DIY.

Acara pembukaan bakal dilaksanakan tanggal 1 maret 2015 mendatang, dan akan menampilkan Naga Batik sepanjang 155 meter.

Naga ini diseubut juga dimungkinkan untuk memecahkan rekor MURI, mengingat naga yang ditampilkan terbuat dari batik dengan motif batik cirebon. Rencananya, naga batik akan dimainkan oleh pihak kepolisian atau TNI sepanjang jalan Malioboro hingga Titik Nol yogyakarta.

“Pembukaan nanti tanggal 1 maret dan akan ada Naga batik aplikasi yang panjangnya 155 meter. Rencananya naga batik akan kita atraksikan sepanjang Jalan Malioboro sampai Titik Nol, dan akan dimainkan oleh dari TNI atau Polri,” ujar Feni Wiendrayati, selaku sekertaris JCACC ( Batik Cirebon )