Batik Cirebon

Friday, December 19, 2014

Batik Cirebon - Pakai Batik, Bintang Mahabarata Bertemu Anggota DPR RI

Batik Cirebon
Bintang Mahabarata Pakai Batik Saat Bertemu Anggota DPR
BATIK CIREBON - Kepopuleran para pemain Mahabarata di Indonesia menyedot banyak perhatian. Selain publik yang mengelu-elukan para pemain India itu, DPR/MPR RI pun mengundang semua pemain Mahabarata ke kantor yang berada di Jalan Gatot Subroto,  Jakarta Pusat.

Seperti terlihat dalam akun Twitter Mahabarata StarPlus, Kamis (18/12/2014) para pemain Mahabarata seperti Shaheer Sheikh, Vinrana, Arav Chowdharry, Lavanya Bharadwaj, Rohit Bhardwaj, Pooja Sharma, Veebha Anand, dan Thakur Anoop Singh tampak duduk di ruangan DPR/MPR RI.

BATIK CIREBON - Pemandangan tak biasa terlihat dari pakaian yang mereka kenakan. Bukan Saree--pakaian adat India, atau bukan juga jas dan gaun. Orang-orang India itu memakai baju batik, warna-warni kain Nusantara itu dipakai siang ini untuk menghadiri undangan yang bertajuk `Dialog Publik Badan Kerja Sama Antar Parlemen`.

Undangan yang bertujuan mempererat hubungan India dan Indonesia ini juga dihadiri oleh anggota DPR/MPR RI, beberapa dari mereka juga duduk berdampingan dengan para artis dari India.
Bahkan setelah itu ada sesi pemberian cendera mata dari DPR RI kepada pemeran Mahabarata itu di depan spanduk bertuliskan `Diplomasi Budaya Melalui Pendekatan Pop-Culture Pengalaman Sukses Serial Mahabarata`.
073889600_1418890898-Vin-rana-dan-veebga-Anand-141218
Tampak Shaheer Sheikh mengenakan batik bermotif bunga dengan warna dasar coklat, Lavanya dengan batik berwarna merah dan hitam. 

Tak ketinggalan pemeran Bisma juga mengenakan batik berwarna kuning emas, sedangkan para wanita mengenakan rok terusan batik.  Vinrana dan Veebha Anand juga mengunggah foto mereka ke Twitter dan Instagram.( Batik Cirebon )

Thursday, December 18, 2014

Batik Cirebon - Pelajari Batik Klasik Tingkatkan Karakter Siswa

Batik Cirebon - Banyaknya generasi muda yang tidak lagi mengenal motif batik membuat sejumlah kalangan merasa prihatin. Mata pelajaran (mapel) IPS pun diusulkan untuk memuat nilai-nilai filosofis batik agar penanaman budaya lokal bisa kembali menguat.

Pakar Batik asal Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Sariyatun, mengatakan masyarakat tidak lagi mengenal budaya mereka sendiri. Bahkan, batik yang menjadi salah satu simbol Kota Solo pun sudah tidak lagi menjadi magnet bagi masyarakat. “Kalau kondisi seperti ini terus dibiarkan, generasi muda kita ke depan tak akan mengenal dengan akar budaya,” katanya, baru-baru ini.

Dikatakan, generasi muda mayoritas sudah tak lagi mengenali motif batik. Apalagi menyangkut makna filosofis. Padahal menurut staf pengajar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ini, di dalam batik klasik mengandung nilai-nilai kearifan yang bisa menjadi penguat ketahanan budaya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, ia menyatakan dengan mempelajari motif batik klasik beserta nilai filosofinya akan meningkatkan karakter siswa. Karena itu perlu diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran IPS. Dengan memasukkan materi itu proses pembelajaran menjadi menyenangkan.

Batik Cirebon - Di Solo ia telah merintis di sejumlah sekolah di antaranya SMP Negeri 10, SMP Negeri 19 dan SMP Kristen 1. Sementara di SMA Negeri 5 juga telah memasukkan batik sebagai muatan lokal. Untuk lebih menguatkan diperlukan upaya pendalaman terhadap nilai filosofis batik. “Jadi tidak hanya mengajak siswa untuk belajar ketrampilan membatik.”

Sekarang perlu dilakukan redifinasi atau dekonstruksi nilai filosofis dari nilai batik klasik bukan sebagai kebudayaan generik, tetapi sebagai kebudayaan deferensial yang dinegosiasikan menjadi salah satu penanda identitas keIndonesiaan. Ini sekaligus sebagai strategi revitalisasi terhadap eksistensi batik klasik.

Menurutnya, mereka yang tidak mengenali motif batik termasuk di antaranya pemaes temanten. Ini tentu sesuatu yang sangat memprehatinkan karena batik klasik kurang diapresiasi. Ini dampak dari globalisasi yang mengedepankan budaya homogen. ( batik Cirebon )

Wednesday, December 17, 2014

Batik Cirebon - Menurut Bule: 7 Alasan Kenapa Kamu Harus Lebih Sering Memakai Batik

Batik Cirebon - Di lemarimu sekarang, ada berapa baju batik sih yang kamu punya? Satu, dua? Seberapa sering pula kamu memakainya? Apakah sudah menjadi pilihan berpakaianmu sehari-hari, atau hanya saat acara formal dia keluar dari lemari?

Tanggal 2 Oktober diperingati masyarakat dunia setiap tahun sebagai Hari Batik Internasional. Apakah hari ini kamu memakai batikmu dengan bangga? Apakah kamu sudah menemukan alasan untuk mencintai sang warisan budaya?

Jika belum, pendiri Hipwee Lauri Lahi bisa menjelaskan alasan kenapa kamu harus lebih sering memakai batik. Artikel di bawah ini diciptakannya sendiri, dan ditulis atas usulan pribadinya. Semoga dengan ini kita jadi lebih menghormati batik, ya!

Sudah lebih dari tiga tahun saya tinggal di Indonesia. Dengan berbagai cara saya berusaha menunjukkan rasa hormat pada rumah baru saya. Salah satunya adalah dengan mengenakan pakaian tradisional Indonesia, batik.

Sekarang adalah Hari Batik Internasional. Rasanya baik jika saya berbagi alasan kenapa orang Indonesia harus lebih sering memakai batik. Mungkin perspektif seorang asing bisa membuat kamu melihat pakaian menakjubkan itu dari sudut pandang baru.

 

1. Batik itu menakjubkan

Batik Cirebon - Pertama kali saya pergi ke Indonesia, saya kaget melihat banyak orang memakai baju berwarna-warni dan bercorak “gila” (dalam artian baik). Saya lihat para pria memakai baju bermotif bunga-bunga dan berwarna biru-ungu. Di negara lain mungkin itu pemandangan aneh. Tapi pria Indonesia yang mengenakan pakaian ini justru terlihat wibawa dan dewasa.

Baju warna-warni ini lebih “ramai” lagi kalau dipakai perempuan. Satu baju bisa punya warna oranye sekaligus hijau. Motifnya pun macam-macam. Ada yang bergambar burung hingga (saya pernah dengar) bumbu dapur. Wah.

Saya heran sekaligus kagum. Bagaimana bisa pakaian dengan “konsep” seramai ini terlihat pantas dikenakan semua orang? Kadang sampai sekarang jika melihat perempuan berkebaya saya ingin menyetopnya dan bilang, “Pakaianmu benar-benar indah.”

2. Batik menghubungkan ribuan orang dari latar belakang berbeda

Saya biasanya memakai batik tiap hari Jumat. Setiap saya memakainya orang-orang di sekitar saya akan tersenyum lebih lebar. Saya pikir, “Ini cara yang baik untuk memulai hari saya.”

Tidak hanya menghubungkan orang asing dengan warga Indonesia saja. Batik juga menyatukan orang Indonesia yang satu dan yang lain. Dari Sumatra hingga Papua. Semua suku punya budaya asli yang berbeda-beda. Namun semuanya tahu apa itu batik. Batik adalah identitas bersama masyarakat Indonesia.
 

3. Dengan batik, kamu bisa memperlihatkan bahwa kamu bangga pada Indonesia

Batik adalah cara paling mudah untuk memperlihatkan kebanggaanmu sebagai orang Indonesia. Kamu tidak perlu jadi atlet olimpiade dan meraih emas. Kamu tidak perlu bisa menari tradisional dan dikirim ke luar negeri.

Cukup buka lemarimu dan kenakan pakaian tradisional yang kamu punya. Lagi pula ini tidak ada ruginya.

4. Membeli batik sama dengan mendorong roda ekonomi lokal

Selama ini, saya berkutat di sektor ekonomi. Saya jadi punya kebiasaan untuk memperkirakan dampak suatu barang dengan perekonomian lokal. Termasuk batik.

Setiap kali kamu membeli batik, kamu mendukung kemajuan ekonomi negeri sendiri. Membuat kain polos hingga menjadi “wah” dan berbentuk pakaian siap pakai butuh waktu yang tidak sebentar. Ada orang yang bekerja menyiapkan tekstil, ada yang menyiapkan pengecapnya, ada yang mengecap, ada yang memotongnya jadi bahan baju, ada yang menjahitnya, ada yang menambahkan kancingnya, ada yang mengantarkannya ke toko, ada yang menjaga tokonya, dan ada kasir yang tersenyum ke kamu saat menerima uang yang kamu serahkan untuk membeli baju batik itu. Semua orang ini terhubung lewat satu pakaian saja.

Belum lagi jika kamu membeli batik tulis. Kamu tidak hanya mendukung ekonomi, tapi juga seni.
Kalau mau: kalau kamu membeli batik tulis langsung dari produsen lokal lain kali, biarkan mereka mengambil untung lebih banyak dari biasanya. Mereka pantas mendapatkan itu.

batiks-850x565 batik cirebon

5. Kamu boleh bersyukur punya pakaian tradisional yang bisa dipakai sehari-hari

Di negara saya, jarang sekali ada orang yang keluar dengan pakaian tradisional kami. Bahkan bisa dikatakan tidak ada. Kecuali kalau memang ada pesta rakyat, pernikahan, atau acara sejenisnya.

Baju tradisional kami terlalu tidak praktis untuk dipakai sehari-hari. Lebih baik kami mengenakan baju modern saja. Ini tidak seperti batik yang hanya tinggal kamu pakai dan kancingkan. Selain itu, warna baju tradisional kami juga lebih polos. Tidak seperti batik yang kaya corak, nada, dan ekspresi. Menurut saya, kamu boleh bersyukur punya pakaian yang bisa begitu cantik namun praktis jika dikenakan.
 

6. Batik bisa menyalurkan kreativitasmu

Warna dan corak batik tidak terbatas. Bentuknya pun bisa bermacam-macam, dari gaun mewah sampai kaos sepakbola. (Saya sebenarnya tidak begitu suka kaos sepakbola motif batik, tapi setiap orang punya selera masing-masing).

Kamu benar-benar dibebaskan menyalurkan kreativitas lewat batik. Mau menorehkan gambar apa saja, mencelupkan dengan tinta apa saja, tidak dilarang.

karya-Anne-Avantie-yang-dipakai-Miss-indo-universe-850x523

7. Mengenakan batik: memperkenalkan dunia pada warisan budaya Indonesia

Ada beberapa pertanyaan yang mengganggu di kepala saya. Kenapa baju Hawaii bisa terkenal di seluruh dunia, tapi batik tidak? Mungkinkah karena baju ala Hawaii itu dipasarkan dengan lebih baik?
Lalu, bagaimana caranya supaya batik bisa menjadi sama terkenalnya dengan baju Hawaii? Salah satu yang bisa kita lakukan adalah memakainya lebih sering.

Jika kamu pergi ke luar negeri, selalu bawa pakaian batik terbaikmu. Percayalah, banyak orang akan mendatangi kamu dan bertanya, “What is this colorful thing you are wearing?” Jika kamu ingin mempromosikan Indonesia, tidak ada waktu yang lebih baik dari ketika kamu menjawabnya.

Nah, setelah membaca tulisan Lauri di atas, jangan pernah malu lagi untuk memakai baju batikmu. Keluarkan dari lemari dan memacaklah! Kapan lagi coba, kamu bisa bergaya sekaligus mengungkapkan kebanggaan pada negara? ( batik Cirebon )

Tuesday, December 16, 2014

Batik Cirebon - Persaingan Batik Semakin Ketat

Batik Cirebon
Owner Vini Batik Pekalongan
BATIK CIREBON - Persaingan batik di Pekalongan semakin ketat, sehingga menuntut produsen untuk kreatif, seperti halnya Vini Batik di Jalan Karya Bhakti nomor 103 Medono Pekalongan yang menawarkan produk yang enak dipakai dan dipandang.

Owner Vini Batik, Vini Fitria Hani (40) saat ditemu Radar mengatakan pihaknya telah menjalankan usahanya sejak 10 tahun yang lalu.

“Saya memulai usaha ini sejak 10 tahun yang lalu, dan saya memilih nama Vini karena sesuai dengan nama saya sebagai pemilik,” ujarnya.

Selain di Medono, pihaknya juga membuka cabang di Pasar Grosir Setono dan di Internasional Batik Center Wiradesa. Untuk produk yang ada di outletnya antara lain sarimbit, blus kantor, rok batik, batik anak, hen-hem dewasa, semuanya menggunakan bahan catton dengan sistem pembartikan printing dan cap.

BATIK CIREBON - Pihaknya menerangkan, produksi batik di Pekalongan dirasa sangat luar biasa. Di kawasan medono saja banyak sekali toko yang menjual batik. Hal tersebut menurutnya membuat persaingan semakin ketat, dan butuh adanya inovasi yang sangat tinggi demi tetap eksis.

“Persaingan sangat ketat, bayangkan saja di Medono saja yang memproduksi batik hampir tak terhitung. Hal ini bagi kami merasa persaingan semakin ketat. Kami melakukan banyak inovasi agar tetap eksis dan supaya para klien tetap melirik produk kami,” katanya.

Menurutnya inovasi tersebut sangat penting terlebih sekarang ini konsumen sudah sangat cerdas serta pandai memilih. Faktor harga menurutnya juga penting karena ketika ada selisih yang begitu besar dengan toko lain bisa jadi pelanggan berpindah hati. “Konsumen sekarang lebih cerdas jadi kami selalu berhati-hati,” imbuhnya.

Untuk harga yang ditawarkan terjangkau, blus kantor harga mulai Rp40 ribuan sampai dengan Rp75 ribuan baik cap maupun printing sedangkan untuk sarimbit harga mulai Rp60 ribuan sampai Rp80 ribuan saja.

Selain itu, untuk rok-roik batik harga mulai Rp30 ribuan sampai Rp75 ribuan, daster harga berkisar antara Rp30 ribuan-Rp65 ribuan, untuk hem-hem dewasa harga berkisar antara Rp30 ribuan sampai Rp65 ribuan, untuk baleno sekitar Rp40 ribuan sampai Rp60 ribuan. Tidak hanya itu saja, batik anak-anak harga mualai Rp15 ribuan – Rp50 ribuan untuk dress anak.(batik cirebon)

Monday, December 15, 2014

Batik Cirebon - Atasi Limbah Batik, Kombi Tawarkan Toilet Industri

BATIK CIREBON - Aktivis dari Komunitas Biji menawarkan solusi pembuatan IPAL murah bagi pengusaha batik. Sebab, selama ini para pengusaha enggan menggunakan IPAL, karena konsekuensi biaya operasional yang tinggi. “Ini kami namakan toilet industri. Karena kinerjanya sederhana dan memang bisa mengurangi dampak limbah, meski baru sedikit,” terang Ketua Kombi, Andi Setiawan.
Kombi sudah membuat satu contoh toilet industri di salah satu pengusaha batik di Banyurip Alit. Dirinya mengakui, IPAL yang dibuatnya belum baku mutu, namun setidaknya bisa mengurangi dampak baik warna maupun aroma dari air limbah hasil pengolahan batik.

Bahan maupun pembuatannya pun, dikatakan Andi, cukup sederhana. Pemilik usaha, hanya perlu menyiapkan empat atau lima bong (kaleng bekas cat) ukuran besar. Di dalamnya, tinggal diberi sejumlah bahan yang dapat mereduksi air limbah seperti arang, batu kapur, ijuk, pasir batu dan kricak. Semua bahan disusun bertingkat di masing-masing bong. Aliran air limbah yang biasanya langsung dibuang ke got atau sungai, dibelokkan terlebih dahulu ke rangkaian filter tersebut.

“Memang belum baku mutu, tapi hasilnya terlihat. Dari awal limbah yang berwarna merah pekat, akan semakin tereduksi baik aroma atau warnanya hingga hasil akhir menghasilkan air limbah berwarna kuning pudar, dan aroma yang tersisa sedikit,” beber dia lagi.

Untuk optimalisasi filter limbah, Andi mengatakan, pengusaha bisa menggunakan lima bong. Sehingga penyaringan akan melalui lima tahap dan hasilnya bisa lebih sempurna. “Yang sudah kami buat hanya empat bong, dan cukup terlihat hasilnya. Kalau lebih optimal, bisa menggunakan lima,” imbuhnya.

BATIK CIREBON - Mengenai biaya, untuk pembuatan toilet industri hanya dibutuhkan Rp200 ribu hingga Rp250 ribu saja. Sehingga bisa dibuat oleh siapa saja. “Silahkan yang mau membuat, pengusaha untuk membuat sendiri-sendiri. Kami hanya menawarkan solusi tidak hanya sekedar menuntut pembenahan saja. Yang harapannya, bisa ditindaklanjuti pemerintah setempat, sehingga bisa difasilitasi pengusahanya,” kata Andi.

M Nasir Usman, pemilik usaha batik yang mencoba penerapan toilet industri mengaku memang berniat ingin meminimalisir dampak industrinya, sehingga bersedia mencoba apa yang ditawarkan Kombi. “Sempat ditawari BKM untuk buat IPAL, tetapi makan tempat terlalu besar. Ini ditawari lagi, dan saya coba.”

Pemilik Jafry Batik tersebut, sebenarnya tak berkeberatan untuk mengeluarkan biaya pembuatan IPAL. Namun, jika harus mengeluarkan biaya terus menerus untuk operasional, memang sedikit berat. “Kalau yang ini sederhana. Kalau melihat kendala, apakah toilet industri ini bisa menampung air dalam jumlah besar. Karena biasanya saat produksi banyak, jumlah limbah yang dihasilkan juga lebih banyak,” tandasnya.(batik cirebon)

Sunday, December 14, 2014

Batik Cirebon - Batik Jokotole, Buatan Bangkalan Ini Dijual ke 3 Negara

Batik Cirebon
Batik Tulis Jokotole

Batik Cirebon - Rumah produksi Batik Jokotole yang terletak di Bangkalan, Madura merupakan salah satu UKM binaan dari Bank Indonesia yang biasa disebut WUBI atau Wirausaha Bank Indonesia. Rumah produksi ini berdiri sejak tahun 2011 akhir dengan modal awal Rp 22 juta. Batik yang terkenal adalah batik motif gentongan dengan kisaran harga Rp 1,7 juta per kain. Batik biasa hanya Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu.
Uswatun Hasanah pemilik bisnis mengatakan, mahalnya batik gentongan karena sulitnya proses membatik dan proses pembuatan membutuhkan waktu yang lama.
"Kalau batik biasa, pembuatannya paling lama satu minggu, sedangkan batik gentongan lama, minimal dua bulan," kata Uswatun saat ditemui di rumah batik Jokotole, di Bangkalan, Sabtu (13/12).
Batik Cirebon - Dia mengatakan penjualan batik ini juga sudah mencapai pasar ekspor ke tiga negara yakni Malaysia, Jepang dan Cina. Dengan mematok harga sekitar Rp 200 ribu sebelum pajak untuk batik yang biasa. Akan tetapi untuk ekspor, Uswatun mengaku terganjal oleh kendala perizinan.
"Perizinannya rumit, harus ngurus ke RT/RW, Kelurahan. Jadi saya harap ke depannya tidak dipersulit lagi karena ini juga kan menambah devisa negara," katanya.
Setiap bulannya, kata Uswatun, bisa ekspor 3 hingga 4 kali dengan pengiriman 80 sampai 200 potong kain batik.
Menurut Uswatun kini omzetnya terus bertambah. "Sekarang omzetnya Rp 106 juta per bulan," ujarnya.
Untuk pengrajin sendiri, Uswatun mengatakan mempekerjakan tetangganya seperti ibu rumah tangga dan remaja. Itu dilakukan agar mereka memiliki kegiatan yang positif dan menghasilkan. Sementara sistem pengupahan tergantung persentase penjualan.
"Kalau upah tergantung lakunya berapa persen nanti dibagi," katanya.
Dosen Universitas Tronojoyo ini menjelaskan, untuk warna batik yang diproduksinya ada empat warna berdasarkan filosofi Bangkalan Madura, yakni hijau, merah, kuning dan biru.
"Hijau itu artinya lebih ke nilai religi, kalau merah keras dan berani, biru menggambarkan letak geografis yang dikelilingi lautan, sedangkan kuning menggambarkan hamparan sawah," katanya.
Untuk pemilihan nama Jokotole sendiri, kata Uswatun, diangkat dari filosofi nama tokoh Pahlawan Madura.(batik cirebon)

Saturday, December 13, 2014

Batik Cirebon - Desainer Kawinkan Teknik TieDye dengan Pewarnaan Batik

Batik Cirebon
Ilustrasi : Motif Batik Cirebon Megamendung
Batik Cirebon - Helen Dewi Kirana, desainer mode yang dikenal melalui merek B(i) batik ini, mencoba berinovasi dengan mengawinkan teknik (pengikatan) tie-dye asal Jepang, yang disebut shibori, dengan teknik pewarnaan pada kain batik.
Shibori sendiri sebenarnya mengkombinasikan berbagai teknik sederhana seperti melipat, mengikat, memelintir dan menjahit kain yang akan digunakan untuk mendapatkan corak yang cantik.
Rangkaian koleksi yang mengawinkan dua teknik dari dua negara ini merupakan koleksi dari label fashion terbaru Helen yang bernama NES by Helen Dewi Kirana | hdk, yang terdiri dari stola dan scarf.
"Jadi, saya menggunakan teknik pengikatan shibori, namun teknik pewarnaannya menggunakan teknik yang biasa diaplikasikan pada kain batik. Yakni, untuk mendapat satu warna tertentu harus melalui beberapa layer warna. Hasil warnanya jadi lebih eksotis. Bahkan saya menggunakan obat untuk batik yang saya beli di Pekalongan," papar Helen pada jumpa pers Peluncuran koleksi NES by Helen Dewi Kirana | hdk di Jakarta, Rabu (10/12).
Batik Cirebon - Teknik Shibori diaplikasikan ke kain dengan mempertimbangkan tidak hanya desain corak yang ingin ditampilkan, namun juga jenis kain yang digunakan agar hasilnya maksimal. Saat ini Helen mengaku masih menggunakan katun impor dari Italia, Jepang dan Korea, karena memang katun tersebut dinilainya paling pas untuk mengaplikasikan teknik shibori ini.
"Proses shibori ini tidak mudah, karena bila diikat terlalu keras kain akan menjadi rusak, namun kalau terlalu longgar mengikatnya polanya tidak akan sempurna," katanya.
Dengan begitu, dalam waktu 3 hari biasanya Helen hanya menghasilkan 25 stola. Ia mengaku butuh istirahat beberapa hari dulu hingga akhirnya memulai pengerjaan lagi. Hal itu dikarenakan setelah proses shibori biasanya tangannya merasa sakit dan pegal.
"Saya hanya dibantu dua orang di tim saya untuk melakukan proses shibori dan pewarnaan. Oleh karena itu, koleksi NES ini tidak bisa diproduksi massal," tandas Helen.
Batik Cirebon - Namun, walaupun tidak diproduksi massal, Helen tetap bercita-cita ingin mengembangkan koleksi NES dengan menambah pilihan produk.
Saat ini Helen mencoba untuk membuat stola yang multifungsi dengan menampilkan dua motif berbeda dalam satu stola. Sehingga, pengguna bisa memilih salah satu motif yang ingin ditampilkan dengan melipat stola menjadi dua. ( batik Cirebon )