Batik Cirebon

Saturday, July 19, 2014

Batik Indonesia Warna Alam Mulai Dikembangkan

75874_620
Batik Indonesia -  Tren warna alam yang mewarnai batik Kudus tampaknya tahun ini kembali tren lagi setelah sebelumnya sempat tenggelam, sebagai parameternya permintaan pangsa pasar batik dengan warna unik tersebut juga mulai meningkat padahal produksinya sudah terbatas.
Pelopor batik Kudus, Yuli Astuti saat ditemui kemarin menjelaskan, permintaan batik warna alam memang saat ini mulai meningkat kembali, faktornya adalah adanya persaingan tren dan desain fesyen yang saat ini juga mengalami perkembangan yang cukup pesat.
"Biasanya batik indonesia warna alam ini dijadikan sebagai kombinasi dalam berbusana, otomatis hal ini memicu terjadinya peningkatan permintaan," katanya.
Tidak hanya itu saja perajin juga ditntut untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas batik agar tidak monoton."Ini merupakan tantangan tersendiri dan harus direalisasikan oleh para perajin untuk menghadapi persaingan," terangnya yang juga anggota Kadin Kudus itu.
Mengenai soal pangsa pasar ia menjelaskan tentunya sudah menyebar ke sejumlah wilayah baik mulai lokal Kudus sampai dengan Jakarta. "Ini dikarenakan konsumen sudah banyak mengenal batik Kudus dengan warna alam," jelasnya.
Terkait soal segmennya, ia menjelaskan sebenarnya bisa masuk ke semua kalangan hanya saja saat ini yang mendominasi masih segmen menengah atas. "Ini dikarenakan bahan dan prosesnya cukup rumit dan harus dilakukan berulang kali, utamanya soal pewarnaan," terangnya.
Mengenai pengadaan bahan baku batik indonesia, Yuli menjelaskan hal itu bisa diperoleh di Kudus ataupun kota lainnya yang relatif dekat. Hanya saja persoalannya adalah bagaimana cara memrosesnya. "Hal tersebut memang membutuhkan waktu serta kecermatan agar hasilnya bisa maksimal, sehingga nilai jualnya tinggi," tandasnya.

Wednesday, July 16, 2014

Batik Trusmi - Potensi Batik di Dunia Internasional

Batik Trusmi - Udara segar semakin terasa karena trend fashion batik semakin meningkat. Bukan hanya pasar lokal,  pasar internasional pun sudah semakin mengenal batik. Tentu saja hal ini di prediksikan akan meningkatkan ekonomi lokal. Namun dengan catatan design harus mengikuti trend fashion modern.

Untuk menjawab tantangan itu, kain tradisional khas nusantara itu hadir dalam model yang semakin modis dan di kemas agar bisa di kenakan di berbagai macam suasana. Batik saat ini tidak hanya dikenakan pada sejumlah acara resmi, tetapi bisa dikenakan dalam acara apa pun, seperti ketika pergi ke kantor, jalan-jalan, ke acara pesta atau sekadar bersantai di rumah.

Keberadaan batik di Indonesia terlihat semakin membooming, tampak pula anak muda semakin banyak yang mengenakan batik di tempat-tempat seperti mall atau sekedar tongkrongan anak muda, tentu saja model yang mereka kenakan bersifat modern. Hal ini di karenakan sentuhan tangan para designer yang dengan kreatifnya mampu membaca keinginan anak muda, dengan memadukan kain tradisional khas Nusantara yang di padukan dengan design modern yang modis dan cocok di pakai anak muda.

Inovasi memang sangat di butuhkan agar batik semakin meledak di pasaran, inovasi dalam hal motif, warna hingga model merupakan salah satu syarat agar menyelaraskan batik dengan zaman. Berkat ide para designer batik lahir dengan lebih modern dan baru dengan tampilan yang lebih cantik dan eksklusif dan dinamis.

Tantangannya sekarang adalah bagaimana agar batik mampu menembus pasar internasional dan menjadi komoditas ekspor unggulan di Indonesia ! Itu sangat mungkin asalkan promosi harus gencar di lakukan di luar negeri melalui KBRI atau dengan cara yang sederhana seperti WNI yang mengenakan batik di luar negeri. Secara tidak sadar dengan cara seperti itu kita telah ikut mempromosikan batik di pasar internasional.  Orang asing akan bertanya-tanya, baju macam apa itu ? dari mana asalnya baju itu ? apa maknanya baju itu ?. Dengan pengetahuan yang kita miliki tentang batik dan mampu menjelaskan pertanyaan orang asing tadi maka bukan tidak mungkin mereka langsung kepincut karena rasa ingin tahu mereka dan mungkin akan berwisata ke sentra batik Indonesia, seperti di batik trusmi Cirebon, batik pekalongan ataupun batik blora. Atau pemerintah pun dapat dengan gencar mengikutsertakan batik di kancah lomba fashion international.

Jadi sangat sederhana sekali untuk melestarikan dan mempromosikan batik, hanya dengan mengenakannya kita sudah ikut melestarikan sekaligus mempromosikan. (batik trusmi)

Sunday, July 13, 2014

Batik Trusmi - Jasa Nelson Mandela Mempromosikan Batik Indonesia

Batik Trusmi - Jika mengenal sosok Nelson Mandela dan batik memang merupakan dua hal yang tak terpisahkan.

Hampir di segala suasana, suasana santai maupun suasana resmi pria kulit hitam itu kerap mengenakan batik. Bahkan dalam pertemuan dan kunjungan kenegaraan dengan berbagai pemimpin dunia beliau kerap sekali menggunakan batik khas Indonesia, hal yang jarang di lakukan oleh pejabat kita dari Indonesia yang lebih memilih mengenakan jas di banding batik dalam kunjungan kenegaraan.

074CFFB8EA84737E9AFC419813A49Bahkan seperti saat beliau bertemu  Ratu Elizabeth II atau George W. Bush beberapa tahun silam. Termasuk saat bertemu mantan presiden Indonesia Soeharto pada tahun 1997. Saat itu, Mandela mengenakan batik, sementara itu mantan Presiden Soeharto mengenakan setelan jas dengan gaya kebarat-baratan.

Ya, pencetus gerakan anti apartheid  dan pembela hak asasi ini seperti layaknya duta batik dunia. Beliau "mempromosikan" batik Indonesia ke seluruh dunia. Sangat ironis sekali disaat batik di kucilkan negera asalnya justru bapak penerima nobel perdamaian itu dengan bangga mengenakan batik.

Menurut data dari BBC Indonesia, perkenalan mandela dengan batik berawal dari ketika beliau berkunjung ke Indonesia pada tahun 1990 ketika beliau baru beberapa bulan keluar dari penjara di Pulau Robben, penjara yang sudah seperti rumahnya saja selama 27 tahun.

Mandela yang saat itu menjabat sebagai presiden Kongres Afrika Selatan menerima cinderamata berupa batik. Layaknya anak muda yang jatuh cinta pada pandangan pertama, sejak saat itu Mandela kerap mengenakan batik di berbagai acara. Diketahui, koleksi batik bapak penerima nobel perdamaian ini di dominasi kemeja batik rancangan maestro batik Iwan Tirta.

Belakangan ini muncul istilah Madiba Shirt atau kemeja madiba yang sering di kenakan oleh Nelson Mandela.

Hari ini adalah hari memperingati hari lahir Mandela, beliau meninggal pada usia 95 tahun, Kamis (5/12/2013). Dalam hal promosi batik ke dunia beliau jelas sangat berjasa, bahkan beliau mencintai batik lebih dari orang Indonesianya itu sendiri.

Sekarang kita patut bersyukur, batik Indonesia sekarang sudah lebih berkembang dari pada masanya dulu. Industri batik seperti di pekalongan mapun industri batik trusmi di cirebon sangat berkembang dan lebih mendunia.

Nelson Mandela juga akan di kenang oleh bangsa Indonesia sebagai tokoh bangsa Afrika yang ikut mempromosikan batik, salah satu budaya khas yang dimiliki Indonesia. Seakan bagi bangsa Indonesia antara Nelson Mandela dan batik merupakan dua hal yang tidak bisa terpisahkan. (batik trusmi)

Thursday, July 10, 2014

Batik Trusmi - Menjaga Daya Saing Batik Tulis dengan Batik Printing

Batik Trusmi - Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) menyesalkan banyaknya masyarakat menggunakan batik printing di banding dengan batik tulis. Padahal rata-rata industri di Indonesia memberdayakan batik berupa batik tulis. Sepeti batik trusmi di cirebon maupung pengrajin batik di solo maupun pekalongan.

Pemerintah perlu melindungi industri batik tulis dengan membuat UU agar timbul keseimbangan antara industri batik tulis dengan batik printing. Maka dari itu batik tulis akan ditempatkan lebih tinggi di banding industri textil lain. Hal itupun di lakukan guna melindungi pengrajin batik tulis agar tidak punah. Undang-undang di perlukan karena memang batik mempunyai spesifikasi sendiri di banding dengan produk textil lainnya.

Selain itu pemerintah juga dirasa kurang ikut andil untuk mempromosikan batik tulis, akibatnya banyak industri yang memproduksi batik printing secara berlebih akibatnya regenerasi pengrajin batik tulis semakin menurun. Undang-undang perbatikan di nilai lebih manusiawi untuk di terapkan di bandingkan harus melarang peredaran batik printing di pasaran.

Jika dilihat dari potensi pembeli muda, mereka itu termasuk future buyer, produk yang sedang ngetrend saat ini maka produk itulah yang akan terus dia beli. Maka dari itu perlu promosi yang berkesinambungan.

Sesuai data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, batik merupakan produk fashion utama nasional. Bila di hitung-hitung khusus untuk perajin batik bisa saja membuka 3,5 juta lapangan kerja baru. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto pun mencapai nilai Rp 181 Trilliun.

Yang menjadi masalah sekarang adalah persaingan industri batik semenjak di bukanya pasar global semakin ketat. Badan Pusat Statistik mengumumkan impor batik printing dari negeri tirai bambu mencapai 1.037 ton dengan nilai Rp. 285 Milliar.

Itulah mengapa industri batik nasional dirasa terancam dengan batik murah impor yang jelas kualitasnya lebih rendah, maka sekali lagi promosi perlu gencar di lakukan oleh pemerintah untuk batik sebagai produk fashion nasional. Pemahaman masyarakatpun perlu di tingkatkan agar masyarakat lebih paham mengapa batik tulis lebih mahal harganya. (batik trusmi)

Monday, July 7, 2014

Batik Trusmi - Perbedaan Batik Cina dan Batik Indonesia

Batik Trusmi - Dewasa ini makin banyak bermunculan batik yang berharga 15rb sampai dengan 20rb, yang di herankan yang di jual bukan batik untuk anak-anak melainkan batik untuk orang dewasa. Mungkin terdengar sedikit aneh dan mustahil. Kenapa batik tersebut bisa semurah itu ? Sedangkan kita tau bahwa proses pembuatan batik mulai dari pembuatan pola, pewarnaan sampai proses penjahitan memerlukan waktu berhari-hari bahkan sampai berbulan-bulan. Untuk batik cap pun tidak mungkin memiliki harga semurah itu, dari biaya bahan sampai pemotongan mungkin melebihi harga jual batik palsu. Jika anda melihat batik seharga tersebut maka anda perlu berhati-hati, mungkin anda boleh curiga bahwa batik tersebut adalah bukan batik dari Indonesia. Jika membeli batik cina dengan harga 15rb mungkin itu masih wajar, tapi bagaimana jika membeli batik cina seharga batik Indonesia. Lalu apa yang membedakan batik cina dengan batik Indonesia ?

Secara kasat mata mungkin batik cina dengan batik Indonesia sulit untuk di bedakan. Namun jika teliti sebenarnya mudah untuk membedakannya. Pertama kita bahas terlebih dahulu kenapa batik cina bisa begitu murah ? Batik lain hanya dengan modal besar dan alat printing yang canggih mereka bisa memproduksi sekaligus jutaan unit untuk di pasarkan ke berbagai negara. Dengan alat seperti itu mana mungkin bisa mendapatkan batik dengan kualitas yang bagus. Sudah sepantasnya kita bangga dengan batik tulis buatan Indonesia yang mempunyai kualitas tinggi dan cita rasa seni yang sulit di samakan oleh negara lain.

Batik Indonesia yang asli bukan di buat dengan alat pabrikan, melainkan batik tulis. Meski sebenarnya ada juga batik cap buatan khas Indonesia. Selain itu sebenarnya batik Indonesia sudah di kenal oleh bangsa lain sejak zaman kerajaan maja pahit. Tetapi bahan utama untuk pembuatan batik di datangkan dari cina, karena saat itu bahan untuk pembuatan batik sulit di dapat di Indonesia.

Nah ini dia ciri batik palsu buatan cina.

Biasanya model hampir mirip dengan batik Indonesia pada umumnya, tetapi biasanya terlihat lebih kusam.
Batik cenderung menggunakan lebih banyak warna.
Motif batik yang banyak dijual di pasar cenderung kontemporer (tidak jelas bentuknya) dengan pola dasar kotak-kotak atau seperti paduan kotak-kotak kain perca ukuran besar
Perpaduan warnanya cenderung kurang harmonis.
Yang terpenting harga cenderung sangat murah di banding batik asli dari Indonesia.
Namun pengetahuan yang wajib di ketahui sebagai anak bangsa pewaris budaya Batik Indonesia seperti di kutip dari kata-kata Edward Hutabarat "hanya pengetahuan akan kekayaan budaya negeri sendirilah yang dapat memastikan dan membantu kita untuk membedakan antara batik asli Indonesia dengan batik palsu buatan Cina".

Friday, July 4, 2014

Minat Perajin Batik Indonesia Tulis di Jambi Menurun

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Jambi Hj Yusniana Hasan Basri mengharapkan agar pemerintah terus melakukan pembinaan untuk mengembangkan batik Indonesia di Jambi dan meningkatkan kesejahteraab para pengrajin.
"Harus ada upaya optimal untuk mengembangkan batik Jambi mengingat saat ini minat pengrajin batik tulis di Jambi mengalami penurunan, sebab perajin lebih suka membuat batik dengan sistem cap," katanya di Jambi, Kamis (19/6).

Harapan itu disampaikan Yusniana saat pembukaan pelatihan pengembangan desain dan pewarnaan alam yang dilaksanakan oleh Dekranasda Provinsi Jambi bekerja sama dengan Dinas Perindustrian Provinsi Jambi. Pelatihan yang akan berlangsung hingga 22 Juni itu mengundang perwakilan dari Museum Nasional Jakarta Darami, dan perwakilan dari Museum Tekstil Trisni dan Gianto, pelatihan diikuti 25 pengrajin dari kabupaten/kota se-Provinsi Jambi.

Lebih lanjut Yusniana mengharapkan pelatihan ini dapat meningkatkan mutu desain batik, yang saat ini masih kurang variasinya atau monoton, dan pemerintah dapat mencari solusi terbaik untuk meningkatkan minat perajin agar lebih menyukai batik tulis.
"Kita harapkan ke depan batik Jambi dapat memiliki ciri khas dari setiap kabupaten/kota, dan dapat diproduksi dengan harga yang murah dan terjangkau oleh kalangan menengah ke bawah," ujarnya.

Selama ini batik tulis harganya sangat mahal dan relatif hanya mampu dibeli oleh kalangan atas. Ia mengatakan, perhatian pemerintah dalam pengembangan batik di Provinsi Jambi sudah sangat baik, namun di sisi lain hasilnya belum dirasakan optimal, terutama dalam pengembangannya.

Diharapkan melalui berbagai pelatihan dan inovasi serta kreasi yang dilakukan, batik Jambi akan kembali mendapat tempat di hati masyarakat. "Hal ini perlu saya sampaikan mengingat saat ini cukup banyak pakaian batik dari negara lain yang beredar di pasaran, antara lain dari Korea, Cina dan Malaysia," ujarnya.

Wednesday, July 2, 2014

Produsen Batik Indonesia Kebanjiran Order

IMG_6291
Produsen kain batik di wilayah Kabupaten Purbalingga kini mulai menerima banyak orderan dari konsumen di luar daerah. Banjirnya order pembuatan kain batik memberikan keuntungan kepada mereka.
Ketua Forum Paguyuban Perajin Batik Purbalingga, Yoga Sugama mengemukakan momen Ramadan memberikan berkah kepada para perajin karena permintaannya meningkat.
"Alhamdulillah meningkat. Ini saya sedang mengerjakan pesanan batik sutera untuk konsumen Kalimantan," katanya.
Dikatakan jenis batik yang kini banyak dipesan adalah batik cap dan batik tulis warna alam. Batik cap harganya terjangkau, sedangkan batik tulis warna alam biasanya untuk menyasar konsumen menengah ke atas.
"Pada bulan lalu kami menerima order batik indonesia warna alam 18 potong dan batik cap empat kodi. Padahal biasanya ordernya tidak sampai segitu," terangnya.
Harga batik cap sekitar Rp 100 ribu per potong, sedangkan batik tulis warna alam paling rendah dihargai Rp 500 ribu hingga sampai jutaan rupiah per potong. "Saat ini harga kain batik naik sekitar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu per potong," terangnya.
Selain Purbalingga, produsen di Banyumas juga telah menyiapkan diri untuk menghadapi lonjakan permintaan saat momen Lebaran. Sebab, pada libur Lebaran biasanya banyak warga yang berkunjung ke galeri-galeri batik indonesia di Sokaraja.
Produsen batik Sokaraja Musallim mengatakan pihaknya memproduksi untuk batik untuk di pasok ke toko-toko pakaian di Purwokerto, serta dipajang di galeri milik sendiri.
"Kami juga menyediakan batik yang sudah jadi dalam bentuk pakaian. Ini untuk melengkapi galeri," katanya.