Monday, July 7, 2014
Batik Trusmi - Perbedaan Batik Cina dan Batik Indonesia
Secara kasat mata mungkin batik cina dengan batik Indonesia sulit untuk di bedakan. Namun jika teliti sebenarnya mudah untuk membedakannya. Pertama kita bahas terlebih dahulu kenapa batik cina bisa begitu murah ? Batik lain hanya dengan modal besar dan alat printing yang canggih mereka bisa memproduksi sekaligus jutaan unit untuk di pasarkan ke berbagai negara. Dengan alat seperti itu mana mungkin bisa mendapatkan batik dengan kualitas yang bagus. Sudah sepantasnya kita bangga dengan batik tulis buatan Indonesia yang mempunyai kualitas tinggi dan cita rasa seni yang sulit di samakan oleh negara lain.
Batik Indonesia yang asli bukan di buat dengan alat pabrikan, melainkan batik tulis. Meski sebenarnya ada juga batik cap buatan khas Indonesia. Selain itu sebenarnya batik Indonesia sudah di kenal oleh bangsa lain sejak zaman kerajaan maja pahit. Tetapi bahan utama untuk pembuatan batik di datangkan dari cina, karena saat itu bahan untuk pembuatan batik sulit di dapat di Indonesia.
Nah ini dia ciri batik palsu buatan cina.
Biasanya model hampir mirip dengan batik Indonesia pada umumnya, tetapi biasanya terlihat lebih kusam.
Batik cenderung menggunakan lebih banyak warna.
Motif batik yang banyak dijual di pasar cenderung kontemporer (tidak jelas bentuknya) dengan pola dasar kotak-kotak atau seperti paduan kotak-kotak kain perca ukuran besar
Perpaduan warnanya cenderung kurang harmonis.
Yang terpenting harga cenderung sangat murah di banding batik asli dari Indonesia.
Namun pengetahuan yang wajib di ketahui sebagai anak bangsa pewaris budaya Batik Indonesia seperti di kutip dari kata-kata Edward Hutabarat "hanya pengetahuan akan kekayaan budaya negeri sendirilah yang dapat memastikan dan membantu kita untuk membedakan antara batik asli Indonesia dengan batik palsu buatan Cina".
Friday, July 4, 2014
Minat Perajin Batik Indonesia Tulis di Jambi Menurun
"Harus ada upaya optimal untuk mengembangkan batik Jambi mengingat saat ini minat pengrajin batik tulis di Jambi mengalami penurunan, sebab perajin lebih suka membuat batik dengan sistem cap," katanya di Jambi, Kamis (19/6).
Harapan itu disampaikan Yusniana saat pembukaan pelatihan pengembangan desain dan pewarnaan alam yang dilaksanakan oleh Dekranasda Provinsi Jambi bekerja sama dengan Dinas Perindustrian Provinsi Jambi. Pelatihan yang akan berlangsung hingga 22 Juni itu mengundang perwakilan dari Museum Nasional Jakarta Darami, dan perwakilan dari Museum Tekstil Trisni dan Gianto, pelatihan diikuti 25 pengrajin dari kabupaten/kota se-Provinsi Jambi.
Lebih lanjut Yusniana mengharapkan pelatihan ini dapat meningkatkan mutu desain batik, yang saat ini masih kurang variasinya atau monoton, dan pemerintah dapat mencari solusi terbaik untuk meningkatkan minat perajin agar lebih menyukai batik tulis.
"Kita harapkan ke depan batik Jambi dapat memiliki ciri khas dari setiap kabupaten/kota, dan dapat diproduksi dengan harga yang murah dan terjangkau oleh kalangan menengah ke bawah," ujarnya.
Selama ini batik tulis harganya sangat mahal dan relatif hanya mampu dibeli oleh kalangan atas. Ia mengatakan, perhatian pemerintah dalam pengembangan batik di Provinsi Jambi sudah sangat baik, namun di sisi lain hasilnya belum dirasakan optimal, terutama dalam pengembangannya.
Diharapkan melalui berbagai pelatihan dan inovasi serta kreasi yang dilakukan, batik Jambi akan kembali mendapat tempat di hati masyarakat. "Hal ini perlu saya sampaikan mengingat saat ini cukup banyak pakaian batik dari negara lain yang beredar di pasaran, antara lain dari Korea, Cina dan Malaysia," ujarnya.
Wednesday, July 2, 2014
Produsen Batik Indonesia Kebanjiran Order
Monday, June 30, 2014
Mahasiswi Kedokteran UGM Kembangkan Batik Indonesia Histologi
Saturday, June 28, 2014
Pakai Batik Indonesia ke Puncak Elbrus, Tim Mapala UMY Pecahkan Rekor Muri
Wednesday, June 25, 2014
Batik Indonesia Sangat Dikenal Masyarakat Venezuela

“Dan sekarang, dalam waktu 2,5 tahun terakhir, batik Indonesia sudah sangat dikenal di Venezuela dan negara-negara di sekitarnya,” kata diplomat yang selalu terlihat energik ini. Sementara itu, Silvia Zulaika, Presiden Lions Club Surabaya “Kresna” selaku ketua panitia acara mengungkapkan bahwa pihaknya sengaja menggelar talk show ini sebagai bentuk komitmen untuk melestarikan budaya Indonesia, tak terkecuali Batik. “Tak hanya tugas pemerintah, namun kita harus bersama-sama mengajak serta menumbuhkan kesadaran bagi semua elemen masyarakat, khususnya perempuan, untuk melakukan upaya pelestarian seni budaya bangsa Batik Indonesia, dengan berbagai cara sesuai profesi dan bidang masing–masing,” papar Silvia. Selain itu, lanjut Silvia, Lions Club Surabaya “Kresna” adalah satu-satunya bagian dari Organisasi Pengabdian Masyarakat LIONS CLUB International yang memiliki visi menyelaraskan kegiatan sosial kemasyarakatan dengan kegiatan pelestarian budaya, sebagaimana disinggung dalam salah satu tujuan Lions Clubs nomer 4, yaitu menaruh perhatian secara aktif terhadap kepentingan umum dan kesejahteraan masyarakat dalam bidang seni budaya, sosial dan tata susila. Dalam talk show yang juga menghadirkan Freddy Istanto, Direktur Surabaya Heritage Society ini, juga digelar fashion show koleksi Batik Chic, dengan menampilkan busana batik khas Sidoarjo. Tak ketinggalan, demo Sketching dan Painting dari LK Bing dan Denny Samawa yang concern terhadap bangunan cagar budaya di Surabaya pada khususnya.
Friday, June 13, 2014
Batik Cirebon - Orang Jepang Pun Suka Batik Indonesia
Batik Cirebon - Orang Jepang Pun Suka Batik Indonesia.Kain Batik Indonesia dan pakaian batik Indonesia motif mega mendung sangat disukai orang Jepang. Kali ini sampai dengan 9 Juni nanti pameran batik Indonesia diselenggarakan di Entetsu Hyakkaten, Galeri Rose lantai 9, dan di Lantai 7 Art Salon. Bukan hanya kain batik, tetapi pakaian batik dan produk yang menggunakan kain batik dari berbagai daerah seperti Cirebon dll juga dipamerkan di sana.
"Saya senang batik Indonesia karena ibu saya desainer batik. Dia berusia 63 tahun senang sekali mendesain baju batik dan berbagai pakaian batik," papar Hirokazu Fukagawa, eksekutif Imari, yang menyelenggarakan pameran tersebut khusus kepada Tribunnews.com, Jumat (6/6/2014) pagi.Kain, baju, pakaian, tas, payung dan berbagai produk lain, ada sekitar 40 buah dipamerkan di sana semua dari batik.
"Saya suka batik Yogyakarta karena warnanya alami sekali, warna indigo paling suka saya," lanjut Hirokazu lagi.Selain batik Yogya, dia juga memilkiki batik dari daerah lain di Indonesia, seperti dari Solo, Pekalongan, Cirebon dan sebagainya.
"Tahun lalu sekitar Juni saya ke Pekalongan dan Yogya melihat tempat produksi batik langsung. Senang sekali saya bisa melihat langsung tempat-tempat pembuatan batik di Indonesia," ungkapnya.Upayanya mempromosikan batik sedikitnya sudah 10 tahun lalu bahkan juga dipamerkan di departemen store Takashimaya Nihonbashi tahun 2004 terus menerus setiap tahun sampai sekarang.
"Tahun ini sekitar Desember nanti mungkin kami akan pameran lagi di Tokyo di Takashimaya," katanya.Menurutnya, banyak orang Jepang semakin suka kain batik Indonesia saat ini, dalam bentuk pakaian dan sebagainya."Sejuk, apalagi mulai memasuki musim panas enak menggunakan baju batik rasanya," katanya.


