Friday, July 4, 2014
Minat Perajin Batik Indonesia Tulis di Jambi Menurun
"Harus ada upaya optimal untuk mengembangkan batik Jambi mengingat saat ini minat pengrajin batik tulis di Jambi mengalami penurunan, sebab perajin lebih suka membuat batik dengan sistem cap," katanya di Jambi, Kamis (19/6).
Harapan itu disampaikan Yusniana saat pembukaan pelatihan pengembangan desain dan pewarnaan alam yang dilaksanakan oleh Dekranasda Provinsi Jambi bekerja sama dengan Dinas Perindustrian Provinsi Jambi. Pelatihan yang akan berlangsung hingga 22 Juni itu mengundang perwakilan dari Museum Nasional Jakarta Darami, dan perwakilan dari Museum Tekstil Trisni dan Gianto, pelatihan diikuti 25 pengrajin dari kabupaten/kota se-Provinsi Jambi.
Lebih lanjut Yusniana mengharapkan pelatihan ini dapat meningkatkan mutu desain batik, yang saat ini masih kurang variasinya atau monoton, dan pemerintah dapat mencari solusi terbaik untuk meningkatkan minat perajin agar lebih menyukai batik tulis.
"Kita harapkan ke depan batik Jambi dapat memiliki ciri khas dari setiap kabupaten/kota, dan dapat diproduksi dengan harga yang murah dan terjangkau oleh kalangan menengah ke bawah," ujarnya.
Selama ini batik tulis harganya sangat mahal dan relatif hanya mampu dibeli oleh kalangan atas. Ia mengatakan, perhatian pemerintah dalam pengembangan batik di Provinsi Jambi sudah sangat baik, namun di sisi lain hasilnya belum dirasakan optimal, terutama dalam pengembangannya.
Diharapkan melalui berbagai pelatihan dan inovasi serta kreasi yang dilakukan, batik Jambi akan kembali mendapat tempat di hati masyarakat. "Hal ini perlu saya sampaikan mengingat saat ini cukup banyak pakaian batik dari negara lain yang beredar di pasaran, antara lain dari Korea, Cina dan Malaysia," ujarnya.
Wednesday, July 2, 2014
Produsen Batik Indonesia Kebanjiran Order
Monday, June 30, 2014
Mahasiswi Kedokteran UGM Kembangkan Batik Indonesia Histologi
Saturday, June 28, 2014
Pakai Batik Indonesia ke Puncak Elbrus, Tim Mapala UMY Pecahkan Rekor Muri
Wednesday, June 25, 2014
Batik Indonesia Sangat Dikenal Masyarakat Venezuela

“Dan sekarang, dalam waktu 2,5 tahun terakhir, batik Indonesia sudah sangat dikenal di Venezuela dan negara-negara di sekitarnya,” kata diplomat yang selalu terlihat energik ini. Sementara itu, Silvia Zulaika, Presiden Lions Club Surabaya “Kresna” selaku ketua panitia acara mengungkapkan bahwa pihaknya sengaja menggelar talk show ini sebagai bentuk komitmen untuk melestarikan budaya Indonesia, tak terkecuali Batik. “Tak hanya tugas pemerintah, namun kita harus bersama-sama mengajak serta menumbuhkan kesadaran bagi semua elemen masyarakat, khususnya perempuan, untuk melakukan upaya pelestarian seni budaya bangsa Batik Indonesia, dengan berbagai cara sesuai profesi dan bidang masing–masing,” papar Silvia. Selain itu, lanjut Silvia, Lions Club Surabaya “Kresna” adalah satu-satunya bagian dari Organisasi Pengabdian Masyarakat LIONS CLUB International yang memiliki visi menyelaraskan kegiatan sosial kemasyarakatan dengan kegiatan pelestarian budaya, sebagaimana disinggung dalam salah satu tujuan Lions Clubs nomer 4, yaitu menaruh perhatian secara aktif terhadap kepentingan umum dan kesejahteraan masyarakat dalam bidang seni budaya, sosial dan tata susila. Dalam talk show yang juga menghadirkan Freddy Istanto, Direktur Surabaya Heritage Society ini, juga digelar fashion show koleksi Batik Chic, dengan menampilkan busana batik khas Sidoarjo. Tak ketinggalan, demo Sketching dan Painting dari LK Bing dan Denny Samawa yang concern terhadap bangunan cagar budaya di Surabaya pada khususnya.
Friday, June 13, 2014
Batik Cirebon - Orang Jepang Pun Suka Batik Indonesia
Batik Cirebon - Orang Jepang Pun Suka Batik Indonesia.Kain Batik Indonesia dan pakaian batik Indonesia motif mega mendung sangat disukai orang Jepang. Kali ini sampai dengan 9 Juni nanti pameran batik Indonesia diselenggarakan di Entetsu Hyakkaten, Galeri Rose lantai 9, dan di Lantai 7 Art Salon. Bukan hanya kain batik, tetapi pakaian batik dan produk yang menggunakan kain batik dari berbagai daerah seperti Cirebon dll juga dipamerkan di sana.
"Saya senang batik Indonesia karena ibu saya desainer batik. Dia berusia 63 tahun senang sekali mendesain baju batik dan berbagai pakaian batik," papar Hirokazu Fukagawa, eksekutif Imari, yang menyelenggarakan pameran tersebut khusus kepada Tribunnews.com, Jumat (6/6/2014) pagi.Kain, baju, pakaian, tas, payung dan berbagai produk lain, ada sekitar 40 buah dipamerkan di sana semua dari batik.
"Saya suka batik Yogyakarta karena warnanya alami sekali, warna indigo paling suka saya," lanjut Hirokazu lagi.Selain batik Yogya, dia juga memilkiki batik dari daerah lain di Indonesia, seperti dari Solo, Pekalongan, Cirebon dan sebagainya.
"Tahun lalu sekitar Juni saya ke Pekalongan dan Yogya melihat tempat produksi batik langsung. Senang sekali saya bisa melihat langsung tempat-tempat pembuatan batik di Indonesia," ungkapnya.Upayanya mempromosikan batik sedikitnya sudah 10 tahun lalu bahkan juga dipamerkan di departemen store Takashimaya Nihonbashi tahun 2004 terus menerus setiap tahun sampai sekarang.
"Tahun ini sekitar Desember nanti mungkin kami akan pameran lagi di Tokyo di Takashimaya," katanya.Menurutnya, banyak orang Jepang semakin suka kain batik Indonesia saat ini, dalam bentuk pakaian dan sebagainya."Sejuk, apalagi mulai memasuki musim panas enak menggunakan baju batik rasanya," katanya.
Sunday, May 4, 2014
Batik Cirebon-Publik Italia Terpukau Tenun Dan Batik Indonesia
Batik Cirebon-Publik Italia Terpukau Tenun Dan Batik Indonesia.Batik Indonesia dan tenun dalam busana klasik dan kontemporer karya dua perancang mode papan atas Indonesia, Chossy Latu dan Carmanita memukau publik Italia.Peragaan busana diselenggarakan dalam acara Wonderful Indonesia: A Kaleidoscope of Indonesian Heritage di Roma oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia Roma dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Acara yang dihadiri sekitar 600 orang dari kalangan pejabat pemerintah, korps diplomatik, pebisnis, pengamat mode internasional, dan media massa dimaksudkan untuk memperkenalkan Tenun Dan Batik Indonesia untuk menuju coutoure dan memperoleh pasar di Italia dan Eropa, demikian keterangan pers KBRI Roma yang diterima ANTARA London, Senin.Peragaan busana ini terpadu secara unik dan harmonis dengan pagelaran budaya yang menyajikan berbagai tarian dari Bali, Betawi, Sumatera Barat, dan Jawa Barat serta "mini exhibition" yang memajang produk-produk Indonesia mulai dari handicraft sampai dengan contoh agricultural products seperti kopi dan kakao.
Suasana Indonesia pun semakin terasa kental dengan alunan musik tradisional Arumba dan Sasando serta peragaan membuat batik oleh Putri Favorit Batik Nusantara 2011, Twinda Rarasati.Chossy Latu dan Carmanita bukan nama yang baru muncul di panggung internasional.Pada pagelaran kali ini, Chossy Latu tetap konsisten menggunakan kain tenun dalam baju-baju rancangannya yang sengaja dibuat klasik dan simple dan "wearable" agar dapat dipakai sehari-hari.Sementara itu, Carmanita yang lahir di lingkungan keluarga pembatik, menggelar koleksi busana Batik Indonesia rancangannya yang beraliran kontemporer dengan inspirasi alam.
Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Roma Priyo Iswanto mengatakan masyarakat dunia perlu ikut melestarikan Batik Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia dengan cara tidak harus ikut membuat Batik Indonesia tetapi memberikan pasar buat Batik Indonesia.Dalam rangka menuju "haute coutoure" dan menembus pasar Italia dan Eropa, KBRI Roma menggandeng Sekolah Mode Koefia di Roma yang telah berumur 100 tahun untuk melambungkan batik dan tenun fashion di Italia, negara yang sering kali disebut sebagai kiblat dunia mode.Acara ini dilaksanakan sebagai satu rangkaian acara Malam Resepsi HUT ke-67 Proklamasi RI dan mengambil tempat di Hotel Sheraton Roma.


